Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, 25 January 2018

Daya Saing Indonesia: Internalisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Pendidikan

Ilustrasi Pancasila (Sumber: google)
Tampaknya kita cenderung sepakat, ketika nama Pancasila dan Soekarno adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pidato 1 Juni, Sang proklamator yang menghentak tanpa dilanda kecemasan, apalagi digerogoti ketakutan berhasil memenangkan pertarungan dialetika yang cukup genting. Tak kalah pentinganya riuh tepuk tangan berkali-kali terdengar di ruang sidang. Bermodal retorika, lelaki berdarah Blitar itu, menampilkan aksi heroik di momen paling historis menjelang kemerdekaan 1945. 

Di Gedung Chuo Sangi In di Jakarta, sidang BPUPKI alias Dokuritsu Junbi Cosakai bersama dengan pemerintah Jepang yang dipimpin oleh Saikoo Sikikan berlangsung mulus. Soekarno dengan mudah memperoleh dukungan penuh untuk menjadikan Pancasila sebagai fondasi utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . Meski sempat tarik ulur dengan sejumlah tokoh agama. 

Peristiwa itulah yang menandakan menetasnya  teks Pancasila yang tersusun spontanitas dari bibir the founding fathers kita, Soekarno. Teks pidato yang dibaca, mengimplikasikan tentang Indonesia sebagai tanah yang menempatkan semua golongan agar dapat hidup bersama dan produktif. Sebagai rumah besar bangsa, Pancasila diposisikan sebagai modal utama untuk menciptakan manusia-manusia yang memiliki kapabilitas dan kualitas mumpuni. Pancasila harus menjadi napas panjang dalam mengarungi rentetan-rentetan langkah untuk membesarkan Negara ini. 

Kala itu, Bung Karno menggenggam optimisme bahwa dalam waktu dekat, akan lahir sebuah negara yang bernama Indonesia. Negara yang dihuni oleh pelbagai makhluk yang beragam agama, suku, tradisi, dan sejarah panjang primordialnya.  Tentu saja, tidak lepas dari ketakutan-ketakutan yang menghantui Bung Karno akan sisi krusial yang diprediksi akan terjadi. Misalnya konflik-konflik horisontal dan kasus-kasus radikalisasi agama, seperti yang menjangkiti saat ini. 

Hari ini sampailah kita pada era postmodernisme, zaman persaingan yang sangat dinamis. Acapkali politik, hukum, agama, dan budaya dicampuradukkan dalam satu mangkuk besar. Hingga pada akhirnya, kesemrawutan terjadi di mana-mana. Untuk itulah, diperlukan kerangka strategis yang jelas dalam menghadapi keakutan situasi sosial. Salah satunya dengan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai nilai luhur bangsa yang harus tetap dijaga marwahnya. Pancasila harus mampu ditanamkan dalam diri untuk Indonesia dalam menyonsong ‘arena’ globalisasi. Sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Theodore Levitte pada 1985. Globalisasi merepresentasikan pudarnya batas-batas antarnegara, sehingga potensi persinggungan sangat besar dari perebutan daya saing. 

Sejumlah data membuktikan, bahwa daya saing Indonesia dalam tiga tahun terakhir cenderung fluktuatif. Terbukti pada tahun 2015 Indonesia berada pada peringkat 37, lalu di tahun 2016 menurun drastis ke posisi 41. Namun, laporan World Economic Forum (WEF) tahun 2017 kembali memberikan angin segar. Melalui laporan yang bertajuk Global Convetitiveness 2017-2018 Edition, daya saing Indonesia kembali naik peringkat. Setidaknya, satu langkah dibanding posisi yang diperoleh pada tahun 2015. Menurut catatan dari berbagai informasi, faktor yang menyebabkan sulitnya kita mencapai posisi teratas, dikarenakan tingkat korupsi, kekacauan birokrasi, dan kendornya sumber daya manusia (SDM) yang berimplikasi pada stagnanisasi ekonomi Negara. 

Berkaca pada paradigma daya saing bangsa (national competitiveness), salah satu yang perlu diperkuat, yaitu ketahanan pondasi pendidikan. Relevansi pendidikan dengan Pancasila merupakan perwujudan dari paripurnanya pembinaan generasi muda yang tergolong masyarakat madani, masyarakat penghuni dunia pendidikan. Pendidikan harus bernapaskan nilai-nilai pancasila, sehingga terbentuk generasi yang adaptif, mandiri, dan tetap mengedepankan kultural. 

Pengimplementasian nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan berbagai konstruksi yang beririsan terhadap regulasi pendidikan. Pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Sila ini ditafsirkan sebagai modal awal pembentukan mental dan karakter dalam menjalani pergulatan kehidupan. Selain ketersediaan tenaga pendidik yang mumpuni, juga harus ditunjang dengan tempat beribadah yang menghimpun keberagaman umat demi merawat toleransi. 

Kedua, sila kedua terdapat nilai kemanusiaan. Butir-butir yang mengatur tentang penghormatan, kebersamaan membangun, tenggang rasa, dan semangat gotong royong. Terminologi gotong royong merupakan tuntutan yang pertama kali diminta Bung Karno dalam pidatonya tentang Pancasila sebagai penanda kultural, yang disejajarkan dengan nilai ketuhanan. 

Ketiga, sila ini mengandung nilai persatuan. Bagian terpenting dari sila ini, tidak lepas dari patriotisme dan nasionalisme. Mengobarkan kebanggaan akan tanah air, mengukukan kesatuan bangsa, dan mengkultuskan rasa rela berkorban. Keempat, sila ini menyonsong nilai kerakyatan. Konsepsi kerakyatan berarti lepas dari sikap egois atau individualis. Determinan yang dimunculkan adanya musyawarah dalam pengambilan keputusan.

Terakhir, kelima yaitu nilai keadilan sosial. Gagasan ini sesungguhnya merujuk pada penghilangan disparitas terhadap sesama. Sekalipun tabrakan-tabrakan kepentingan sosial terkadang mengikisnya. Pranata-pranata sosial harus tetap terjaga demi menghindari kemajemukan. Meropong Indonesia dari bentukan intrepretasi kata makmur dan adil secara lahiriah dan batiniah. 

Transformasi pendidikan berbasis pencasila diyakini dapat mengembangan kompetensi manusia Indonesia menghadapi daya saing global, sekalipun harus melewati infleksi dogmatis pengetahuan barat. Pancasila harus selalu diinternalisasikan dalam mengarungi perjalanan pendidikan, sehingga anak-anak bangsa mampu bersaing tanpa harus meninggalkan identitasnya dan kepentingan ideologi bangsa. (*)
Baca!!!

Monday, 9 March 2015

Kekerasan Perempuan di Buku Teks (Refleksi Hari Perempuan Internasional)

Opini Koran Fajar (9/3/2015) (Foto : Pribadi)
Sejak ditetapkan Hari Perempuan Internasional (Women‘s Internasional Day) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8 Maret 1978 gelora kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender semakin meningkat.Tak pelak menjadi pemantik dengan hadirnya sejumlah organisasi dan komunitas perempuan di berbagai daerah. Termasuk munculnya delapan menteri perempuan di kabinet kerja ala Jokowi, terbanyak sepanjang sejarah kepemimpinan yang ada di Indonesia merupakan indikasi bahwa Indonesia menjunjung tinggi kesetaraan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan. Terdiskriminasi, termarjinalkan, dan terlecehkan yang dialami perempuan adalah spirit untuk melawan stigma yang terlanjur merebak di masyarakat.

Seperti yang diketahui bersama, perspektif gender bukan mengakomodir perbedaan biologis, tetapi lebih menyoalkan perihal kontruk sosial terkait nilai dan tingkah laku yang menyebabkan lahir sekte-sekte antara kaum maskulin dengan feminim dalam pranata sosial. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Peran pemerintah dalam menyukseskan konsep gender sebenarnya sudah sejak lama menjadi titik perhatian. Terutama di dunia pendidikan, pendidikan dengan segala perangkat pembelajarannya dianggap sebagai sarana yang efektif dalam proses pembentukan ideologi manusia. Ideologi yang dimaksud adalah ideologi kesetaraan gender. Keberadaan kesetaraan gender yang mulai dikampanyekan oleh pemegang kebijakan tersebut meliputi gender sistem pendidikan, pengajaran, dan perangkat pembelajaran yang ada di sekolah.

Sadar atau tidak, salah satu perangkat pembelajaran yang dimiliki siswa saat ini yakni buku teks, ternyata berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh sejumlah akademisi begitupula pernah diteliti penulis, menemukan adanya peristiwa seksis yang ada di buku teks. Misal, pada buku Bahasa Indonesia kelas VII untuk SMP/MTs penulis mengidentifikasi masih banyak teks-teks yang bias, dominasi laki-laki masih nampak secara dikotomis. Baik struktural maupun wilayah kerja. Belum lagi buku siswa dari disiplin ilmu yang lain, tentu tidak bisa dipungkiri polarisasi gender masih menjadi bahan yang tak disadari secara alamiah.

Kaum feminis seperti Sara Mills menguraikan bahwa kekerasan perempuan banyak terjadi pada teks, baik dalam novel, gambar ataupun dalam berita. Titik perhatian dan perspektif wacana feminis, menunjukkan bagaimana teks biasa dalam menampilkan Perempuan. Perempuan cenderung ditampilkan dalam teks sebagai pihak yang salah, marjinal dibandingkan dengan pihak laki-laki. Ketidakadilan dan penggambaran yang buruk mengenai Perempuan inilah yang menjadi sasaran utama dalam tulisan Mills. Analisis wacana yang disampaikan menunjukkan bagaimana wanita digambarkan dan dimarjinalkan dalam teks, dan bagaimana bentuk pola pemarjinalan itu dilakukan. Ini tentu saja melibatkan strategi wacana tertentu sehingga ketika ditampilkan dalam teks, wanita tergambar secara buruk.

Sepanjang pengamatan penulis, buku pegangan siswa dalam hal ini buku pelajaran terdapat empat titik yang kerap diindentifikasi terjadi bias gender. Seperti pada uraian materi, soal latihan, dan teks bacaan serta gambar ataupun ilustrasi, padahal keempat aspek tersebut merupakan rambu-rambu yang perlu diperhatikan secara seksama. Hanya saja, pada kenyataannya Departemen Pendidikan Nasional belum secara serius menyorot pemilihan kata-kata atau teks yang ada untuk dijadikan sebagai bahan ajar dan alat evaluasinya.


Beberapa ketidakadilan gender bisa diamati dengan memerhatikan melalui komponen-komponen penting tersebut. Semisal, dalam buku teks seringkali gambar atau pun ilustrasi laki-laki ditampilkan sebagai kaum yang superior sementara perempuan dihadirkan sebagai kaum inferior. Laki-laki biasanya dimunculkan dalam gambar sebagai seseorang yang berprestasi, kuat, dan memiliki pekerjaan yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, yang bekerja di sawah, di kantor ataupun di jalan selalu saja ilustrasi yang ada adalah mayoritas laki-laki. Perempuan malah ditampilkan dalam kondisi “buruk”, seperti lebih banyak ditampilkan bekerja di wilayah domestik, gambar seorang ibu atau wanita sedang memasak, menyapu, mengasuh anak. Begitupula, jika terkait dengan taman bunga atau boneka pasti objek utamanya adalah perempuan. Semestinya kita menyadari sepenuhnya bahwa gambar/ilustrasi dalam buku ternyata menjadi media yang dapat menanamkan  ingatan yang kuat pada anak didik dan diterima lebih konkret.

Kontruksi gender pada buku teks tersebut secara tidak langsung telah memengaruhi sejumlah paradigma. Berbagai bentuk pencitraan yang dilakukan laki-laki dan sebaliknya perempuan ditampilkan sebagai kaum yang lemah, lembut, sopan, dan berada di atas bayang-bayang kekuatan laki-laki. Pada teks bacaan misalnya, mayoritas cerpen atau hikayat yang disajikan kebanyakan bercerita tentang perjuang seorang laki-laki, sedangkan perempuan di deskripsikan sebagai korban atas kebiadaban. Menurut Sara Mills, para pembaca (siswa) lebih mengidentifikasi dirinya menggunakan kode budaya yang berlaku di benak pembaca ketika menafsirkan suatu teks. Suatu teks memunculkan wacana secara bertingkat dengan mengetengahkan kebenaran secara hirarkis dan sistematis, sehingga pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan karakter atau apa yang terjadi di dalam teks (Eriyanto, 2001:208).

Uraian tersebut membuka mata kita, ternyata di tengah perjalanan para pejuang gerakan feminisme ada penyimpanan-penyimpanan yang tak bisa ditangkap kasat mata, tapi memerlukan tafsiran mendalam untuk membongkar setiap makna yang ada dalam buku teks. Akibatnya, bisa saja merusak ideologi peserta didik. Belum lagi konflik streotipe, subordinasi dan beban kerja yang mendiskreditkan perempuan. 

Berdasarkan penggambaran atas kekerasan perempuan dalam teks, tentunya diharapkan para tenaga pengajar (pendidik) lebih memiliki kepekaan gender dalam proses belajar mengajar. Guru dalam hal ini mampu menangkap dengan cekatan jika melihat ketimpangan-ketimpangan gender yang ada dalam kelas. Tentunya, bukan hanya guru, namun setiap orang semestinya menginisiasi dirinya sendiri untuk menjalan konsep gender dan membudayakannya dalam ranah masyarakat. Sehingga perempuan mampu bersaing secara sehat dengan lawan jenisnya dalam hal apapun, terkecuali kodrat (jenis kelamin). Akhirnya, penulis mengaturkan selamat merayakan Hari Perempuan Internasional 2015.

Tulisan ini juga diterbitkan di kolom Opini, Koran Fajar edisi 9 Maret 2015



Baca!!!

Wednesday, 4 March 2015

Ayah (Sebuah Gejala Kebahasaan)

Akhir-akhir ini ada virus pergaulan yang menyerang remaja Makassar, munculnya istilah “Ayah” yang kerap dijadikan sebagai goyunan para anak muda dalam komunikasi sehari-hari menjadi trending topik di berbagai media lokal. Kata Ayah yang diiukuti sejumlah morfem lain yang berbentuk klausa maupun kalimat  yang bersifat kontekstual menarik perhatian para penggiat sosial media (Sosmed) hingga dijadikan sebagai bentuk percakapan informal. Dan kata-kata itu pun disampaikan menggunakan khas dialek Bugis-Makassar. Yang menarik sebenarnya lantaran leksem atau kata tersebut dikolaborasikan dengan gambar ataupun ilustrasi yang menampilkan sosok laki-laki yang bergaya perempuan, di Makassar kita kenal dengan sebutan bencong alias banci. Beberapa sumber mengatakan, asal muasal kata ini memang berasal dari kalangan waria. Meski hingga saat ini, belum jelas siapa yang pertama kali memperakarsai kata tersebut hingga menjadi fenomenal. Misalnya Bampaka Ayah, Kunci leherka Ayah, atau Ayah Bunuhma Takkala Hancurma, Mauka ke Jakarta Ayah karena Makassar Tidak Aman. dan masih banyak lagi berhamburan di berbagai jenis media sosial dan jejaring sosial. Kalimat seperti itulah yang kemudian dikreasikan dalam bentuk Meme. Perlu diketahui, Meme disini diartikan sebagai seni mengelola pesan digital. Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai sebuah ide, kebiasaan atau gaya yang menyebar dari orang ke orang dalam suatu budaya. Tujuannya selain sebagai bahan hiburan ada juga yang sifatnya sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial dan budaya saat ini.
Opini Tribun Timur (3/3/2015)

Maraknya Meme seperti itu, membuat penyebutan Ayah menjadi hal yang menjijikan dikarenakan dikemas dengan ilustrasi seorang banci seksi yang menyertai ujaran “Ayah”. Baik dalam proposisi dan tuturan pada sturuktur kalimat  yang ada. Lihat saja dari sejumlah meme yang ada, kata Ayah menjadi unsur yang paling ditonjolkan dalam klausa atau kalimat. Dalam tinjauan Sintaksis, Ayah ditempatkan sebagai kata pembentuk utama pada konstruksi strukur bahasa. Kata Ayah diposisikan sebagai subjek yang pasif. Misalnya, Ayah, Bakarma saja (Ayah, bakar saja saya) Ayah kunci leherka (Ayah tolong kunci leher saya). Kedua klausa tersebut terindetifikasi mengadung unsur predikatif yang memberikan kebebasan subjek berbuat apa saja. Keduanya juga bisa berfungsi sebagai kalimat imperatif, yang memerintahkan subjek.

Terlepas dari  tujuan utama dari lahirnya panggilan ayah di kalangan pemuda. Ada hal yang menimbulkan keperihatinan bagi penulis, sadar atau tidak, kata Ayah berimplikasi negatif, sehingga mengalami pergeseran makna. Hal ini sangat bertentangan dengan arti sebenarnya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, Ayah memiliki makna bahwa orang tua kandung laki-laki; Kata sapaan kepada orang tua laki-laki. Begitu pula dalam tinjauan Semantik, kata Ayah bisa diselidiki dari makna gramatikal dan leksikal. Secara gramatikal, kata ini belum mengalami proses gramatikal masih berupa kata dasar. Tetapi karena mengalami penambahan leksem akibatnya terjadi pemajemukan misalnya dalam klausa Bampaka Ayah, kalau tidak disayangma (Pukul saya Ayah, kalau memang saya sudah tidak disayang) jika ditafsirkaan secara umum, kita menangkap makna bahwa ada seorang anak yang meminta dipukul oleh Ayahnya. Pengaruh asosiatif kalimat menyebabkan nilai rasanya yang berbeda karena ada sesuatu yang berada di luar bahasa, yang dimaksud adalah gejala ujaran yang terjadi. Ayah diartikan sebagai panggilan sayang untuk seorang kekasih yang diperuntukkan bagi kaum laki-laki sehingga Ayah mengalami peyorasi (penurunan makna). Akan tetapi, jika menggunakan kacamata gramatikal bebas maka maknanya sudah tepat dikarenakan pengaruhi dengan kondisi budaya yang ada di Makassar. Sementara secara leksikal, Ayah dianggap sebagai suatu keutuhan yang berdiri sendiri, maknanya secara lepas di luar konteks yang mengikutinya (struktur klausa atau kalimat), berarti sama dengan makna yang ada pada KBBI.

Sementara  pada tinjauan Pragmatik, misalnya kalimat berikut,  di Bandarama Ayah mauka ke Jakarta, Makassar tidak aman. Kalimat kausalitas tersebut masih menggunakan kata Ayah dalam teks sebagai bentuk kritik atau perlawan terhadap kondisi yang dihadapi. Jika ditelisik dalam perspektif Pragmatik, kalimat tersebut berupa tindak perlokusi yang impilikaturnya berupa ketidaksenangan tinggal di Makassar, dengan praanggapan bahwa Makassar tidak aman. Ayah dalam hal ini sebagai suatu deksis, dimana maknanya mengalami perubahan secara leksikal. Seperti dikatakan dalam buku Cahyono (1995) mendefinisikan deksis sebagai suatu cara yang dipakai untuk mendeskripsikan makna yang diacu oleh penutur dan pengaruh situasi pembicaraan.  Pragmatik bagi Kridalaksana salah satu tokoh linguistik Indonesia mengatakan pragmatik diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Seperti penempelan-penempelan kata Ayah dalam kalimat.

Dalam tinjauan Sosiolinguitik, dikenal dengan nama bahasa prokem atau bahasa gaul. Hampir diseluruh lingkup pendidikan yang ada wilayah Makassar terutama anak sekolahan dan mahasiswa teridentifikasi gemar memakai tuturan itu, diolah dengan maksud menciptakan ruang-ruang yang bersifat lelucon, kritik, dan sajian kalimat yang memainkan kata Ayah dalam pelbagai bentuk tuturan sehingga menjadi sesuatu yang menarik. Fenomena kebahasaan seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi di Makassar. Sebelumnya muncul kata “anjing”, “sundala”, dan “kakak”. Kata-kata umpatan itu juga berimplikasi positif. Tidak lagi seperti makna semula. Semisal kata “Sundala” yang digunakan dalam kalimat, Sundala, cantiknya ini cewek. Morfem sundala disini dimaknai sebagai sesuatu rasa kagum atau pujian. Begitupun dengan kata Ayah, hanya saja justru kata ini mengalami perubahan makna ke arah yang negatif.

Kajian Sosiolinguistik yang mengkaji tentang bahasa, masyarakat, dan budaya. Memandang bahwa ketiga kompenen tersebut memiliki peran dalam membentuk munculnya istilah-istilah baru. Pandangan Ferdinand de Saussure (1916) salah satu tokoh linguistik modern menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Peran pemuda atau remaja sebagai penutur aktif dalam lingkup sosial sangat menentukan hadirnya kosakata yang mengalami perluasan makna dengan memilih diksi yang coba diasosiasikan dengan keadaan sosial. Terkait peristiwa sosial yang aktual, terutama di Makassar. Dalam beberapa bulan terakhir, maraknya aksi geng motor yang terjadi, membuat para nitizen tak ingin ketinggalan dalam mengulas, terutama dalam membuatkan meme. Hampir semua foto ataupun ilustrasi yang dipublis berupa kiritikan konstuktif tentang bagaimana membasmi geng motor. Gejala-gejala kebahasaan ini sangat penting untuk diperhatikan masyarakat, tidak hanya ikut menjadi “konsumen” yang memakan apa saja kata-kata baru yang dinilai terkenal dan enak kedengaran. Terakhir, setelah munculnya kata-kata Ayah, sekarang disusul lagi dengan adanya kalimat pelesetan baru, yakni “Di situ kadang saya merasa sedih” sebenarnya kalimat ini, kalau dianalisis berperan sebagai akibat dari apa yang terjadi. Misalnya kalimat sebab-akibat berikut, “Ketika melihat teman-teman wisuda, di situ kadang saya merasa sedih”.

Lahirnya berbagai istilah-istilah baru, tentu tidak lepas dari hegemoni sosial media yang menjamur. Masyarakat cenderung menjadikan tolok ukur jejaring sosial sebagai wadah hadirnya beragam jenis istilah yang menarik jika diaplikasikan dalam percakapan sehari-hari. Terlepas dari tepat atau tidaknya penggunaan istilah dalam suatu masyarakat,  hal ini membuktikan bahwa bahasa sebagai suatu yang dinamis mengikuti perkembangan yang ada. Selain itu, ini juga menjadi ajang permainan bahasa oleh masyarakat berkembang.

 Tulisan ini juga terbit di Koran Tribun Timur, edisi 3 Maret 2015...

*Asri Ismail (5/3/015)
Baca!!!

Friday, 12 December 2014

Namakan Saja Pengalaman, Cukup

Bukan prihal cepat atau tidaknya menyandang gelar sarjana, tolok ukur kesesuksesan seseorang bisa ditentukan. Begitupun Indeks Prestasi Komulatif (IPK), tinggi rendahnya sebuah nilai seseorang pun bukan menjadi barometer keberhasilannya kelak.
Ini kalimat yang sering saya dengar dan diperbincangkan dalam kampus. Bahkan, bagi sebagian orang beranggapan, pembeda antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya adalah proses yang dilewati selama di bangku kuliah, maksud saya pengalaman yang didapat. Entah itu hanya apologi atau sebuah realitas. 

Diskusi malam. Himpunan Mahasiswa Bahasa di Kampus
sedang mendiskusi kegiatan (Foto; Dokumen pribadi)
Berdasarkan perbincangan saya dengan beberapa orang yang menurut hemat saya, orang-orang ini sudah masuk dalam golongan sukses juga kecenduranganya membenarkan hal itu. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengejar narasumber nasional untuk saya masukkan di koran kampus. Saya diminta untuk mewancarai Anies Baswedan (baca; Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah-sekarang), kebetulan beliau kala itu berada di Makassar, sehingga aksesnya relatif mudah ditemui. Meski harus menunggu berjam-jam, tapi akhirnya harapan itu terwujud. Dalam wawancara tersebut, saya menyelipkan pertanyaan di luar topik bahan yang saya bawa. Saya meminta pandangan beliau mengenai mahasiswa yang lama kuliah. Spontan ia menjawab, baginya mahasiswa yang lama menempuh studi bukanlah masalah, asalkan mahasiswa tersebut memiliki kegiatan positif, tidak hanya sekadar lebih banyak berpikirnya tanpa aplikasi dan tidur. 

“Bagi saya pribadi, saya tidak ada masalah kalau mereka kuliah lama. Selama waktu yang mahasiswa pakai itu, digunakan untuk agenda-agenda positif. Ingat kata-kata saya ini, mungkin ada teman anda yang wisudawan terbaik tapi tidak pernah berorganisasi atau tidak memiliki kesibukan diluar yang membantu membentuk mental dan menambah wawasan berpikirnya, ia hanya akan mendapat tepuk tangan pada saat itu juga (baca:wisuda) tapi coba bandingkan 5 sampai 10 tahun kedepan dengan teman-teman anda yang menyiapkan ruang untuk belajar di luar bangku kuliah, kebanyakan diantara mereka jauh lebih berhasil,” Begitu tutur mantan Rektor Universitas Paramadina kepada saya.
Saya juga ingat, ini saya dapat dari salah satu pejabat di kampus tempat saya menimba ilmu, namanya Prof. Jasruddin. Katanya, IPK hanya mengantarkan kita pada pintu (maksudnya “Pintu” tempat kita, misalnya melamar kerja) selebihnya jika sudah berada dalam ruangan, maka yang terjadi adalah pertarungan pengalaman yang diperoleh selama ini.

Tak hanya itu, beberapa dari pengalaman selama jadi wartawan kampus dan melalui beberapa organisasi lainnya, ketika bertemu dengan sejumlah orang hebat ini menurut subjektifitas saya. Tak sedikit diantara mereka, menyarankan untuk betul-betul memanfaatkan waktu selama kuliah. Katanya, di S1-lah mahasiswa diharapkan mencari sebanyak-banyaknya ilmu. Bahkan, hampir semua dosen dan pejabat yang ada kampus nyaris tidak ada yang tidak pernah mencicipi yang namanya organisasi. Minimal itu menjadi indikasi, begitu penting organisasi bagi mahasiswa. Saya pribadi merasakan hal demikian. 

Tulisan diatas hanya sekadar kilas balik dari apa yang menjadi cerita saya hingga hari ini.Tidak dinafikkan bahwa, berkerumul dengan orang-orang hebat, akan terciprak juga ilmunya.Pada sebuah artikel yang pernah saya baca, penulis menafsirkan bahwa pengalaman bukanlah bertemunya antara intelektual dengan realitas tapi lebih pada pencelupan eksitensi kita di dalam kondisi sosial. Artinya apa, pengalaman lebih menekankan bagaimana seseorang hadir di tengah-tengah kemajemukan dan peka atas realitas sosial yang terjadi.

Sekali lagi saya katakan, ini bukan sebuah apologi atau bentuk pemaafan dari apa yang menimpa saya. Ini hanya sekadar bahan sharing bagi siapa saja yang menilainya sebagai suatu ilmu. Karena saya juga tercederai, saya gagal pada wilayah manage waktu. Akhirnya, kuliah 5 tahun lebih adalah konsekuensi dari jalan yang saya ambil. 

Semoga saja, kita tidak menyianyiakan waktu untuk selalu gelisah....

***Asri Ismail (12/12/14)







Baca!!!

Tuesday, 24 December 2013

Menaruh Luka di Peraduan Senja (Eksploitasi Rasa)

Sudah beberapa bulan ini, aku masih saja berkutak pada masalah yang sama. Ada beberapa larik-larik yang belum sempat saya terjemahkan. Bukan karena tidak ada waktu untuk menuntaskan kegelisahan ini, tapi rasa-rasanya beban itu melelehkan semangat saya. Ini kali pertama seumur hidup saya menemukan luka yang obatnya harus menggunakan duri untuk menyembuhkan. Entah sudah berapa kali otak ini saya peras. Hasilnya nihil, luka itu malah semakin parah.
Ilustrasi (Foto : Google search)

Beberapa rentetan kejadian menghempaskan deretan-deretan kisah pilu berbalut kemelaratan. Saya letih melawan, melawan keteledoran, melawan ego yang berujung pemaksaan air mata mengalir disebilah parang yang tajam. Ini bukan curhat, saya hanya mencoba menumpahkan rasa, sebab kapasitas batin dan hati saya tidak mampu menampung.

Setiap senja perlahan-lahan hilang, lagi-lagi penyakit itu kambuh. Malam selalu saja menyekap ruang kenyamanan. Ia menghadirkan sepi di tengah nyanyian kesunyian. Kadangkala, untuk mencicipi ke-muram-an ini, saya membutuhkan secangkir kopi, sesekali mencampurinya dengan sebatang rokok yang setia terjepit dibibir.

Ah..malam selalu saja menjadi candu, tak pernah sekali saja ia melepaskan diri dari lilitan pikiran. Meski saya tahu, dibalik kesepian yang ditawarkan, ada bulan yang malu-malu memancarkan cahaya, mungkin disana ada jawaban tentang semuanya. Dan di langit-langit tertutup awan gelap, saya melihat bintang-bintang menari-nari. Ekspresinya sulit saya maknai, semisal pesta kelabu yang dituangkan ke bumi untuk mengetahui seberapa hebat makhluk yang mendiaminya.

Hari ini, saya masih saja berdiri diatas tali yang bisa saja menjatuhkan ketika gejala alam tiba-tiba tak lagi bersahabat. Sepertinya menikmati labirin yang menjebak adalah kesesalan. Sedari itu, saya juga heran dengan tingkah ini bolak-balik melewati beberapa fase, akhirnya berakhir ke semula. Bagi kebanyakan orang, ia menafsir-nafsirkan saya mencoba bersembunyi dibalik semua masalah ini, mungkin saja mereka mengira saya lari dan seolah tak kembali lagi bersama menertibkan kelalaian ini. Terserah, seperti apa asumsi itu di tempatkan . Saya hanya mencoba menarik beberapa helai larik dulu, saya akui ini tak mudah, kerikil-kerikil bertaburan di jalan perjuangan.

Saya memahami bahwa apa yang ada saat ini, ujian akan kemanusian saya. Endingnya akan menentukan seperti apa kualitas saya. Walau, diawal semua sudah terbaca, tapi saya yakini instrument yang kita pakai terbatas dibeberapa arah. Mungkin, ada banyak yang merasakan imbas dari keguguran daun yang ditiupkan angin ketidaksetiaan. Maaf untuk itu, sejatinya kesucian itu bukan berarti dia tidak pernah kotor atau dikotori. Kadangkala, ia menjadi bagian dari etalase kehidupan.

Kalau ada yang bertanya lantas apa yang saya akan perbuat untuk menutupi “malu” yang malu-maluin ini, biarkan keindahan alam yang menampar subjektivitas kemulian batin anda. Hanya bagi mereka yang tak pernah lelah memegang erat tangan ini tahu bagaimana rasanya dalamnya lubang yang digali dengan tetesan keringat murni keikhlasan. Mereka pula yang bisa menggerakan tangan dan kaki-nya untuk menghapus jejak-jejak yang dianggap belum siap lahir. Bukan pada mereka, yang mulutnya berkoar-koar seolah-olah suci, padahal kita tahu ada busa yang berbisa melekat dipinggir bibirnya. Terlebih kepada mereka yang telinga-nya tak mampu memfilter suara-suara sumbang, padahal seyogyanya telinga tak hanya difungsikan untuk mendengar tetapi tahu membedakan mana suara bebek dan mana suara manusia.

Akhirnya, saya menganggap senja adalah kemunafikan yang bertahta keindahakan, karena disana ada estetika yang tak abadi. Ia hanya mampu mengantarkan siang menuju peraduan malam. Jingga warna khas yang kita tahu, secara samar-samar saya melihat ada luka yang disembunyikan. Ibarat bunga mawar dengan kesetiaan duri menjaga.Tapi, tak apalah, aku mengabdikan diri padanya, mengikuti siklusnya yang sekejap. Berharap, ceceran-ceceran pelecehan ini dengan sekejap pula ditelam zaman. Dan mereka sadar bahwa otaknya tak lebih dari kebiadaban yang diperbudak oleh pikirannya. (*)

Asri Ismail
Warkop Om Ben, 25 Desember 2013


Baca!!!

Thursday, 19 December 2013

Ahyar Anwar, Hero Lembaga Kemahasiswaan

Cinta adalah dirinya, kubangan akan rindu pun yang melilitkan efek cinta juga dirinya. Segala dimensi yang berbicara tentang kisah kasih, asmara dan aroma kemesraan yang menari-nari adalah sosoknya. Ceria, perlente, perfeksionis, dan cuek juga adalah tampilannya dalam memaknai cinta seutuhnya.  Begitulah dia mengolah cinta yang tak pernah dituntaskan, selalu ada semangat yang tak terkubur untuk mengejar impian-impian lain akan cinta. Baginya, segala yang ada di dunia ini itulah cinta.

He..he..he..itu sedikit cara saya menggambarkan sosok Ahyar Anwar, sang pujangga sejati yang saya kenal di lingkup akademik. Saya pun menemukan dirinya lewat Lembaga Kemahasiswaan (LK) Jurusan. Hanya selang 2 bulan saat dia menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya terpilih sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMAPRODI PBSI) tahun 2011.
Sampul Buku Obituari. Buku yang diluncurkan dalam rangka mengenang 110 hari kepergian Almahrum Ahyar Anwar

Berawal dari situlah meningkatnya intensitas pertemuan saya dengan beliau, segala urusan kelembagaan selalu beliau menjadi tumpuan saya. Pernah suatu masa, saya masih ingat ketika program kerja lembaga kemahasiswaan yang saya emban sedang berlangsung, beliau hadir bak dewa penyelamat. Kala itu kami kekurangan dana, kami kelabakan entah mau cari kemana lagi. Sebab, rasanya sudah semua kami datangi untuk “meminta”. Mungkin karena tidak mau melihat kami anak-anaknya dirundung malu, beliau memanggil saya datang bertandang di kediamannya dan menuntaskan kegelisahan-kegelisan kami, dengan memberikan saya segenggam uang untuk melunasi kekurangan-kekurangan di kegiatan kami itu.

Persoalan LK, beliau begitu apresiatif setiap kegiatan yang diselenggarakan. Tak jarang, ia turut hadir menyukseskan beberapa acara yang kami laksanakan. Tak pandang waktu, jika ia punya kesempatan selalu saja hadir disela-sela berlangsungnya acara. Kadang pula, ia mengorbankan agendanya yang lain demi meramaikan kegiatan kami. Begitupula kalau ada masalah yang terkait LK ia selalu turun tangan dan berdiri di depan demi membela kepentingan kami.

Terakhir, di bulan Agustus 2013, sebelum beliau dipanggil oleh kekasihnya (Baca-Tuhan), dia jugalah yang memberikan “lampu hijau” kegiatan kami. Di tengah  kemelut lembaga kemahasiswaan Fakultas Bahasa dan Sastra yang karut-marut. Sebab, hingga saat ini LK di fakultas kami masih saja berstatus dibekukan. Tapi baginya, segala aktivitas yang berbau positif itu tidak ada alasan untuk ditolak. Namun sayang beribu sayang, Tuhan ternyata telah menyiapkan tempat indah baginya, sehingga kegiatan yang kami laksanakan yakni Parade Bahasa Nasional tidak bisa ia saksikan.

Itu hanya segelintir kisah yang saya coba tuangkan dalam sebuah cerita, juga menjadi bahan refleksi antar aku dengan beliau. Bagiku, sosok Ahyar Anwar adalah sosok inspiratif bagi siapa saja yang mengenal dirinya. Setiap kali bertemu dengannya, selalu saja ada suntikan-suntikan motivasi yang keluar dari bibirnya. Ia memang dikenal sebagai sosok inteletual, sastrawan hebat sehingga tak heran kalau karya-karyanya banyak menghiasi tokoh-tokoh buku.

Satu hal yang unik dari pribadi beliau, kalau lagi marah atau membentak mahasiswa pasti sekejap saja ia bakal lupa bahwa baru-baru saja dirinya memarahi mahasiswanya. Aneh juga rasanya, tapi itulah dia, pribadi yang tak pendendam dan suka lelucon.

Ahyar Anwar itu, tipe orang yang keras. Keras sekali, tatkala dia mengetahui ada kebenaran yang disembunyikan, dia tidak akan berhenti usut jika belum dapat titik temu. Namun dibalik itu, dirinya memiliki jiwa yang sangat lembut, penyayang dan enak diajak berkomunikasi.

Sebenarnya, masih banyak hal yang belum saya utarakan lewat tulisan ini, tapi ini cukup membuat kami mengenangmu bahwa kau pernah hadir mewarnai cerita kami. Akhirnya, terima kasih untuk kisah yang telah dilukis. Terima kasih telah menjadi ayah kami, motivator kami, inspirator kami, mendidik kami dan terima kasih untuk senyum yang pernah diselipkan untuk kami.


Sebuah untaian doa-doa keberkahan selalu kami panjatkan untukmu dan kisah kami bersama dirimu akan selalu menjadi kenangan yang tak bakalan tertutupi zaman. Kami yakin, Tuhan akan selalu memanjakanmu di alam sana. Salam rindu yang panjang untukmu yang tenang di rumah Tuhan. (Asri Ismail)

Tulisan ini, menjadi salah satu tulisan dalam buku Sebuah Obituari Ahyar Anwar Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta. Lauching 15 Desember 2013
Baca!!!

Friday, 8 March 2013

Mengajar Jangan Dihajar


Saat mengajar di SMAN 2 Watansoppeng
Sejumlah cerita yang saya dengar dari curahan hati teman-teman satu posko, ada banyak hal yang diungkapkan mengenai pengalamannya mengajar di sekolah tempat kami mengadakan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL). Masing-masing sebenarnya punya metode sendiri dalam mengeksplore materi yang disajikan untuk siswa-siswanya.

Dari kumpulan cerita tersebut, masalah besar yang menjadi titik kejenuhan mengajar mereka adalah hadirnya beberapa siswa yang sangat sulit diatur alias tak mau ikut aturan main. Alhasil, memarahi, mengancam merupakan langkah solutif yang kebanyakan diambil untuk mengatasi masalah yang satu ini.

Memang, fenomena siswa “bandel” tidak bisa di pungkiri ataupun dihindari. Hampir setiap sekolah ada siswa yang seperti itu. Kategori siswa yang kita anggap sebagai siswa yang nakal itu pun berbeda-beda bergantung pada perspektif masing-masing pengajar.

Mungkin saja, ketika kita melihat ada siswa yang tidak memakai sepatu, tidak rapi dalam memakai seragam sekolah, tidak memerhatikan pelajaran, dan tak mau diam pada saat pembelajaran berlangsung, misalnya selalu mengganggu teman-temannya adalah ciri-ciri siswa yang nakal dan bodoh.Padahal,  semua itu hanyalah bentuk tingkah klasik siswa dalam lingkup pendidikan formal mana pun.

Saya pribadi sebenarnya kurang setuju jika cara kita menghadapi siswa yang seperti itu dengan cara memarahi, menasehati dengan nada mengancam atau menghukum dalam bentuk cara apa saja namanya yang selalu kita anggap adalah langkah paling efektif. Bukan kah strategi itu sudah lama diterapkan, namun hasilnya masih saja nihil. Buktinya, jika saja ini berjalan dengan baik, lantas kenapa kenalakan siswa masih saja tumbuh subur? Percuma kan. Bahkan, parahnya masih banyak yang menggunakan kekerasan fisik untuk memberikan efek jera.

Justru, bagi saya langkah itu akan semakin menekan perkembangan pengetahuan siswa. Ia akan semakin sulit untuk berkreativitas akibat selalu muncul ketakutan-ketakutan dalam benak mereka.  Namun, parahnya seorang guru malah sulit mendeteksi itu. Sepanjang pengamatan saya, guru hanya mampu menilai perihal tahu atau tidak tahu tentang materi yang dijelaskannya. Guru hanya mengetahui siapa yang pintar dan siapa yang dalam masuk dalam spesifikasi bodoh, guru hanya mengejar tuntutan daftar bahan ajar. Itu aneh kan namanya? (piker-pikir sendiri ya..he..he..he)

Tapi pernahkah guru berpikir, kenapa siswa ini ‘bandel’, kenapa siswa ini acuh terhadap pelajaran yang diberikan, kenapa siswa ini sangat susah diatur dan suka melawan. Jika gejala ini muncul, itu indikasi ada yang tidak beres dari kita pribadi sebagai tenaga pendidik. 

Mungkin saja, cara kita memberi materi yang kurang baik, dan kurang bersahabat ataukah aturan yang kita terapkan terlalu kaku, sehingga apa yang nampak dalam kelas sepertinya kita berkeinginan membuat mereka ibarat robot, yang harus mengikuti setiap intruksi yang di perintahkan.

Saya pikir, tugas kita sebagai guru tidak hanya sekadar mentransfer ilmu tapi bagian terpenting bagaimana kita mendidik siswa dengan cara terdidik. Bukan malah memarah-marahi mereka, menakut-nakuti mereka. Malah jika hal seperti itu diterapkan secara tidak langsung akan berimbas pada kondisi psikis dan menurunkan nilai sosial siswa.

Ingat bung,  setiap orang memiliki keahlian tersendiri, makanya jangan keseringan memaksakan untuk mengerti semua pelajaran yang diberikan. Terlebih, tujuan UUD 45 kan bukan hanya pada sebatas bagaimana kita menjadikan siswa pintar, tapi dalam cakupan yang lebih luas lagi yakni mencerdaskan anak bangsa. Dalam hal ini cerdas, sesuai keahlian yang dimilikinya.

Marilahlah kita legowo sedikit dengan memberikan ruang mereka untuk berkreasi dengan pikiran-pikiran positifnya, jangan terlalu sering memberikan beban yang terlalu memberatkan.

Apalagi, kita semua tahu jika ditelisik secara filosofi, sekolah itu kan berasal dari bahasa Yunani yakni schola’e yang berarti waktu luang. Maka, jangan menimpali kewajiban kita diatas hak siswa itu untuk memanfaatkan waktu luang yang mereka miliki. Mungkin terkesan terlalu plural jika hal ini kita kaji. Tapi minimal ini menjadi bahan pertimbangan bagi kita untuk mengetahui batas-batas yang kita miliki juga. (Asri_Ismail)


Orang bodoh itu adalah orang yang selalu membanggakan dirinya dan mengatakan dirinya pintar berikut selalu memandang enteng sesuatu, dan orang yang pintar itu adalah orang yang sebetul-betulnya pintar tapi selalu merendahkan dirinya.
(teringan-ngian petuah beliau)

Asri_Ismail, Posko KKN-PPL, Soppeng (4/3).
Baca!!!

Tuesday, 12 February 2013

Belajar Mengagumi Diri Sendiri !


Fenomena kagum-mengagumi adalah kondisi klasik yang kerap kita jumpa dalam konteks lingkungan apapun. Hampir setiap orang memiliki rasa itu. Dan itu tidak dapat kita bantah, sebab persoalan mengagumi lebih pada wilayah rasa yang semula hanya “tercium” oleh indra, lalu lambat laun akan terkuasai dengan keinginan untuk menjadi seperti dia (orang yang dikagumi, redI).

Saya pribadi, juga sering kali kagum pada sosok yang saya anggap amazing, pada orang-orang yang rasanya mampu menjadi panutan bagi saya. Beberapa tokoh cukup pernah jadi idola saya. Namun, itu ternyata membuat saya terkadang lupa daratan. Seolah-olah hanya dengan membalikkan telapak tangan, maka dengan mudahnya bakal menjadi seperti mereka.

(Foto : Google Search)
Kekaguman itu sifatnya universal, entah itu kagum dengan personality, kinerja atau apalah yang sepertinya membuat kita bangga terhadap sesuatu.

Entah apa yang merasuki saya, sehingga hari ini tepat pukul 05.00 wita, di sebuah Warkop idola saya ini, saya malah tertarik membahas esensi dari kekaguman itu. Kata kagum kalau ditelisik secara definisi kata ini bermakna pujian, atau pemberian apresiasi dalam bentuk “kado” rasa yang mengarahkan ke sisi positif.

Heran juga, ketika saya malah menemukan sejumlah tingkah seseorang yang memiliki rasa kagum tapi kalau saya nilai berlebih, mungkin sudah tidak lagi ada kadar kagum yang terkandung didalamnya tapi fanatik. Misalnya, ia memberikan perlakuan yang berbeda terhadap orang yang dikaguminya itu, memasang beberapa foto mereka di dinding kamar, atau bahkan disimpan didompetnya. Namun, parahnya ia sama sekali belum pernah bertatap muka secara langsung. Aneh kan? tapi itulah yang terjadi.

Sering kali, saya membaca kisah –kisah inspiratif dari beberapa pengalaman orang. Biasanya juga sih mengetuk pintu hati dan membuka pikiran untuk berbuat demikian. Hanya saja, rasanya untuk menyamainya mustahil, sebab saya masih yakin Tuhan menciptakan kita dengan fisik dan sifat yang berbeda-beda, tentu juga akan memberikan pengalaman hidup yang berbeda pula.

Saya pernah membaca artikel, katanya mengagumi orang itu sama saja seperti cicak. Jika melihat sesuatu yang indah makan akan berbunyi, “Ckckckc”.  Maksudnya, ketika kita melihat orang yang kita anggap hebat, kita selalu menggeleng-gelengkan kepala, sebagai tanda “kagum” . Itu analogi kecil yang digambarkan si penulis artikel itu.

Untuk itu, berhentilah menjadi generasi cicak hehehe…, marilah kita mencoba mengubah mindset, bagaimana menjadi inspiratif bagi orang. Belajar mengagumi diri sendiri, tak perlu kita sibuk-sibuk mencari orang untuk kita kagumi.

Semestinya, yang perlu kita kagumi adalah Tuhan, sebab semua percaya hanya Tuhan-lah yang memberikan atas apa yang kita miliki saat ini. Maka, sebaiknya porsi kagum itu hanya kita patri kan kepada-Nya.

_Asri Ismail (13/2)
Baca!!!

Saturday, 2 February 2013

Manusia Itu Setan atau Setan Itu Sudah Manusia?


Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan….”

Manusia bersahabat dengan setan (Fhoto : Google Search)
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis….”

Itu penggalan tulisan MH Emha Ainun Najib yang ditulis dalam bentuk esai. Rasanya saya tergelitik dengan isi dari esai ini. Kalau dipikir secara logika, rasanya terlalu naïf jika kita sebagai manusia yang seutuhnya manusia masih saja membantah argumentasi dari Cak Nun, Sapaan budayawan hebat satu ini.

Dunia ini memang sedang dipenuhi dengan kerumunan setan yang berwujud manusia. Pun kalau ada diantara pembaca tulisan masih merasa tidak terpengaruh dengan sifat-sifat setan, berarti dia berada di luar subyek pembicaraan kita ini..hehehehe.

Maaf-maaf saja, maraknya prilaku koruptor baik itu dalam skala besar ataupun dalam skala yang kecil, minum-minuman keras, sifat individualistik individu merupakan contoh kecil prilaku setan yang kini dijalankan oleh orang yang menganggap dirinya manusia.
Ketika setan saja  mengaku tidak lagi memiliki tantangan dalam menjalankan tugasnya sebagaimananya setan, itu indikasi bahwa manusia sudah terjerumus dalam lingkaran hitam yang dibuat setan.  Manusia seolah-olah tak mampu lagi melakukan penetrasi dalam membedakan prilakunya dengan prilaku sang “penggoda”nya, yang tentu akan memberikannya efek negatif bagi dirinya kelak.

Saya pribadi saja kerap tidak menyadari, apakah saya ini sedang terkontaminasi dengan setan atau tidak. Sebab, permainan ego yang selalu mengedepankan kebenaran subyektif itu yang biasa memengaruhui persahabatan kita semakin erat dengan setan.

Pertanyaannnya kemudian, apakah saat ini manusia itu sudah berprilaku setan? ataukah setan itu sudah berwujud manusia. Realistis saja, apakah diantara kita masih belum ada yang pernah berprilaku layak setan? Saya berani menjawab TIDAK.

Selamat berpikir saja, sebab terkadang hanya pada proses berpikir kita bisa menemukan diri kita, lalu kita sendiri nantinya mampu menentukan diri, apakah kita setan ataukah kita hanya sedang melakoni kepura-puraan menjadi manusia yang bersifat SETAN. Semoga saja tidak…

Asri_Ismail (3/2/2013)





Baca!!!

Tuesday, 1 January 2013

Mengeja Tahun 2013 dengan Kebersamaan

Sudah menjadi keharusan jika pada titik akhir sebuah tahun yang ditandai dengan angka 1 Januari, maka tidak ada yang mampu mengelak akan ada yang namanya peralihan nama tahun. Sama halnya dengan digantinya tahun 2012 ke tahun 2013.
 
Berfhoto bersama di Gedung Phinisi UNM (31/12)
Beragam cara yang dilakukan orang untuk mengabadikan momen itu, tapi tak jarang juga yang malah tinggal berdiam diri karena mungkin tidak sesuai tuntutan moril yang mereka  yakini.

Ada juga yang mengapresiasi momen pergantian tahun ini dengan menikmatinya bersama-sama dengan keluarga, pasangan, teman hingga sahabat-sahabat karib mereka. perayaan pesta tahun baru ini, hampir semua kalangan merasakan di berbagai belahan dunia dengan cara mereka masing-masing.

Meski sepanjang pengamatan saya selama ini, tahun baru itu diidentik dengan kicauan kembang api dan petasan disepanjang jalan, atau di tempat tertentu yang memang disiapkan sebagai tempat untuk menunggu detik-detik pergantian tahun.

Pasta tahun baru memang bukanlah sesuatu yang lumrah lagi, kita semua tahu setiap hari itu tiba, maka pasti akan ada hal yang terjadi untuk menandai momen itu, tak terkecuali di Makassar. Di kota Daeng ini, mayoritas penghuninya merayakan hal itu. Tengok saja, di sepanjang ruas jalan saja semalam (31/12) kita bersama-sama melihat meriahnya mercung kembang api dan petasan seolah membela langit.

Seperti yang saya katakan, kebersamaan bersama  dengan teman-teman merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk mengabadikan momen berarti itu.Semalam, saya pribadi memilih kumpul dengan teman-teman.

Memang sih, bukan sesuatu yang istimewah jika merayakan hal itu dengan teman. Tapi, ini akan menjadi bukti adanya solidaritas diantara kami. Melalui, kebersamaan bakal memperkuat hubungan emosional kita.

Mengeja kata kebersamaan itu sebenarnya hanyalah gambaran dimana terdapat sejumlah kepala yang berkumpul lalu melangkah bersama demi satu tujuan. Bagi saya, kebersamaan menjadi suatu hal penting dalam membina sebuah hubungan. Jelas, kita tak pernah bisa benar-benar hidup sendiri dalam kehidupan ini. Kita tidak bisa menjadi manusia yang egois, yang merasa bisa melakukan segalanya sendirian, yang merasa tak membutuhkan orang lain.
Dengan kebersamaan, maka keran masa depan akan terbuka. 

Minum kopi....(1/1/13)
Bukankah banyak kepala, maka akan muncul banyak pemikiran yang tentu tujuannya untuk kebaikan bersama. Jika saja, ada manusia di dunia ini yang tak menyenangi kebersamaan, saya bisa menjustifikasi bahwa orang itu akan kehilangan nyawa kehidupannya. Sebab saya yakini keindahan dunia itu tercipta dengan muncul-nya kata Bersama itu.


Tahun 2013, saya memaknainya sebagai tahun kebersamaan. Artinya apa, tahun ini kompetisi individual tidak akan logi baik. Sebab, untuk mecapai sesuatu yang kita inginkan, maka diperlukan kerjasama kolektif sebagai bentuk kerjasama yang ideal.
Akhirnya Happy New Year, 2013.

_Asri Ismail



Baca!!!

Friday, 21 December 2012

Ibu, Kau Wanita Biasa yang Luar Biasa

Di tangannya, kehidupan kita bergantung. Jari-jari tangannya dia gunakan untuk mengelus lembut tubuh kita, biar kita hadir sebagai manusia yang seutuhnya manusia. Sebab, apa yang ada pada kita saat ini adalah bukti bakti Sang Tuhan kita yang diwujudkan sebagai manusia luhur pekerti, dia adalah Ibu.

     Jika membayangkan sosoknya, dia hanyalah seorang manusia yang tak lebih dengan wujud manusia lain. Ia diciptakan berjenis kelamin wanita, lalu dihadirkankan sebagai pembawa generasi baru. Dari rahimnya, lahir-lah manusia-manusia baru sebagai entitas dari sebuah perkembangbiakan dengan lawan jenisnya.

Kita sering memanggilnya dengan kata Ibu. Mungkin saja, sebutan itu hanyalah sebuah hasil dari kesepakatan sosial semata bahwa perempuan yang sudah memiliki anak, maka disebut dengan Ibu. Atau mungkin dia adalah korban budaya yang ada saat ini.
Tak perlu banyak kita berdebat tentang kehadiran seorang ibu, Ibu ya Ibu. Wanita yang telah mengandung kita selama 9 bulan lamanya, lalu hadir-lah kita menatap dunia yang kejam ini.

Yang perlu kita renungkan, perjungan Ibu selama ini hingga menjadikan kita bisa seperti apa yang tampak sekarang ini. Jika kita memanggil-nya sebagai Tuhan, tentu tak ada salahnya, sebab dia adalah manusia yang dititip Tuhan, ia diberi beban untuk untuk memelihara kita. Dia diwarisi hati oleh malaikat. Dia tak pernah merasakan jenuh bahkan bosan untuk menjaga dan merawat kita.

Ibu, jika saja aku engkau meminta nyawaku untuk mengorbankan kepentingan-mu yang lain, tak akan ada kata “Tidak” yang mengindikasi penolakan terlontar dari mulut ini. Sebab, kamu adalah Tuhan yang berhak atas diriku, yang berhak atas kehidupanku ini. Kehidupan yang aku cicipi hari ini, adalah efek moral yang kau berikan selama ini.

Kami tahu, kata lelah itu tak pernah ada dalam benakmu. Engkau dengan ikhlas melakukan semua yang ada kaitannya dengan kami, itu semua karena keinginanmu untuk membesarkan kami agar kami bisa memiliki hidup yang lebih baik.

Mungkin, terkadang kita merasakan ada tindakan dari Ibu yang dianggap membatasi kita. Namun, perlu kita pikirkan bahwa apapun kebijakan dari dia, semata-mata karena dia tak mau melihat kita, jatuh pada hal-hal yang bisa mencederai kita.

Entah pengorbanan apa yang harus kami perbuat untuk membalas jasa-jasamu. Sebab, tak ada materi yang bisa mewakili dari ribuan kelelahan yang kamu curahkan untuk kami.

Love U mom…

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2012

_Asri Ismail (Redaksi LPPM Profesi UNM)
Baca!!!

Sunday, 16 December 2012

Tertunda Karena Ditunda

Menunda itu sebenarnya adalah salah satu pekerjaan konyol. Saya pribadi berani menjustifikasi mengenai imbas kemudian dari pekerjaan menunda itu. Sebenarnya, sifat seperti ini sudah tidak lazim lagi. Hampir semua orang pernah melakukan hal yang sama yakni “Menunda” dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Memang sih, kondisi ini terkadang kita susah untuk tinggalkan. Terlebih jika seorang itu punya seabrek pekerjaan lain yang mesti juga terselesaikan. Namun, untuk lebih baiknya kita sebagai manusia yang memang di takdirkan untuk berpikir dan bekerja, kita harus pinta-pintar untuk mengatur waktu sedemikian baik.

 Tadi (16/12) saya sempat menonton salah satu acara di TV, yang menghadirkan Mario Teguh sebagai motivator, ia mengatakan kehebatan seorang itu akan pudar karena seringnya menunda-nunda suatu pekerjaan.

Bagi saya itu, itu ada benarnya juga, sebab tidak akan berarti skill seseorang jika ia jarang mengulangi pekerjaannya. Saya pribadi, tak jarang saya melakukan penundaan, hampir dibanyak aktivitas yang saya jalani. Pikiran saya selalu mengatakan “Nanti-nanti” untuk menyelesaikan tugas atau kewajiban saya. Alhasil, saya kerap kelimpungan, terlebih juga jika keadaan semakin mendesak. Ya..mau apalagi, terpaksa hampir semua hasil dari pekerjaan yang saya lakukan tidak ada yang sempurna. Pasti, ada celah yang muncul. Ujung-ujungnya akan berakhir dengan penyesalan.

 Pekerjaan saya sebagai mahasiswa, berikut tugas-tugas akademiknya, belum lagi karena nasib saya mungkin memang digariskan untuk aktif di lembaga kemahasiswaan, selalu saja menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk memperbaiki manajemen waktu. Namun, apa daya saya akui saya masih saja gagal pada wilayah praktik. Tapi, dari beberapa kendala saya alami yang berefek pada kualitas kerja saya selama ini, tentu menjadi pelajaran yang amat berarti bagi saya.

Saat ini, perlahan-lahan saya mulai mencoba memperbaiki diri, mulai dari hal-hal yang kecil hingga pada sesuatu yang sifatnya urgen. Saya masih ingat nasehat guru saya yang mengatakan menunda pekerjaan itu sama halnya membiarkan penyakit tumbuh pada tubuh kita. Ini sebenarnya salah satu pengalaman pribadi yang saya alami. Hanya saja, saya mencoba berbagi kepada siapa saja yang saat ini belum jua tersadar akan prilaku negatif itu.

 Apa yang menimpa kita saat ini, tidak lain dan tak bukan hanyalah hasil dari sikap dan tindakan yang kita perbuat. Saya hadir bukan berarti saya lebih baik, namun akan lebih baik jika kita saling mengingatkan untuk kearah yang lebih. Ada pesan dari ‘Abdur Rahman bin Auf, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Menunda-nunda itu adalah pancaran setan yang disisipkan ke dalam hati orang-orang mukmin.’” (HR. Dailami no. 2420). Jika benar menunda itu adalah cara Tuhan untuk menguji kita, tentu kita harus siapkan pamungkas untuk menghadapinya. Sebab, ini akan menjadi pekerjaan berat bagi kita, terlebih sifat seperti ini hampir setiap hari mengintai. Semoga bentuk pengaplikasian dari apa yang saya pikirkan ini yang menjadi sedikit goresan berbentuk tulisan akan mampu sedikit menggugah pola pikir kita. Ingat menuda pekerjaan itu sama dengan menimbung derita. Selamat berpikir dan bertindak kawan!

 Hanya sebuah coretan!!!

 _Asri Ismail
Baca!!!

Saturday, 27 October 2012

Yang Berkhianat dan Terkhianati


Naskah diatas adalah isi sumpah pemuda yang diikrarkan para pemuda Indonesia dari berbagai belahan tempat yang ada di Indonesia. Sumpah yang merupakan janji para kaum muda ini dilakukan pada tanggal 28 Oktober 1928.
Jika menilik dari waktu itu, maka Sumpah Pemuda sudah berumur 84 Tahun. Begitu banyak perjuangan heroik para pemuda hingga menjadikan Indonesia seperti saat ini. Mulai dari perjuangan atas kemerdekaan hingga perjuangan mempertahankannya.
Namun, ironi semangat para pemuda saat ini sudah tergerus oleh kepentingan-kepentingan. Tidak lagi, seperti kala dimana para pemuda yang berjiwa militan betul-betul menjadikan dirinya sebagai ikon perubahan, Idealisme mereka masih suci.
Bukan persoalan membandingan-bandingkan, karena akan susah memang jika kita mencari perbedaan pemuda saat ini. Namun, ada beberapa hal yang memang terdegradasi dari semangat kepemudaan saat ini.
Baca!!!

Wednesday, 24 October 2012

Kebudayaan Barat Vs Budaya Indonesia

Kemarin ada teman bertanya, apakah sudah ada kado valentine yang kamu beli? spontan saja saya jawabnya, tidak ada.  Jujur secara pribadi saya orang yang kontra dengan perayaan hari valentine ini . Apalagi, hari tersebut bukan hasil dari kebudayaan Indonesia.
Ironis, jika kita sebagai bangsa Indonesia yang ternyata mengadopsi budaya barat yang tidak jelas historis dan filosofinya. Bukan rahasia umum lagi, hari yang diidentik dengan hari kasih sayang ini setiap tahunnya selalu dirayakan oleh segelintir orang untuk  menunjukkan rasa sayang terhadap pasangannya.Misalnya saja, saling bertukar kado atau apa saja yang dianggapnya mampu menumbuhkan kesan cinta.
Hari yang jatuh pada setiap tanggal 14 februari tersebut bahkan sudah meregenerasi kepada hampir seluruh elemen masyarakat yang memercayai tentang keberadaan hari tersebut sebagai momentum untuk semakin merekatkan kasih sayang. Namun, mungkin saja sejumlah orang tidak sadar, hadirnya hari tersebut ditengah-tengah bangsa indonesia menjadi indikasi bagaimana budaya barat semakin jauh menggerogoti kebudayaan kita . Parahnya lagi, hal itu seakan menjadi salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia dan patut untuk selalu
Baca!!!

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...