Tuesday, 15 November 2016

Semalam dengan Diam

Ilustrasi (Foto: Int)
Kekasihku
Kau seperti lautan yang bisu
Aku tak menangkap apapun dari matamu
Kosong dan semua keheningan merestui
Aku yang luput dari semua itu

Kekasihku
Aku hanya ingin menyerupai bayangmu
Dan kau masih saja diam
Masihkah atas nama luka?
Hingga kau bungkam aksara-aksaramu

Kekasihku
He..he..tak narasi yang sanggup aku susun
Pertemuan berdurasi 10 menit itu, hening
Namun, dari sekian banyak sajianmu
Senyummulah yang paling menarik

Sayang
Jika kau minta sepucuk, ada beberapa bait yang kutulis
Tentang malam dan kenangan.
Tapi cukup itu saja
Ada beberapa larik yang lumpuh karena diammu

Tak ada hujan atau gerimis, tapi kau menangis
Setiap kupeluk, kau eratkan
Aku kuyub

Suguhan ini dan aku yang malang
Bertepi, puncak
Semalaman


(Malang, 15/11/2016)





Baca!!!

Monday, 31 August 2015

Mawar dan Suaminya

Telat kumengenalmu,  penyesalan itu yang tak bisa kubendung. Waktu mengajari kita tentang bagaimana mencurinya disela rindu yang tak tertahan. Dengan apa aku menyapamu selain menawari peluk yang tak kau dapat dari suamimu.

Mawar begitu saya memanggilmu. Kesepianmu yang mempertemukan kita. Bulan purnama, aku mengeja namamu yang buta makna. Yang ku tahu, kau menenggelamkan keindahan lain. Aku lupa cara mencintai wanita lain. Tapi suamimu, duri yang menjagamu.

Kau selalu menjanjikan kesetiaan atas pengkhinatan dengan laki-laki yang memberimu buah hati. Katamu, Tuhan tak adil. Kau juga menyalahkan rasa. Dengan tabah aku menemani tubuhmu yang kuyub.

Ilustrasi (Int)
Kita menciptakan kisah dimana suamimulah yang memainkan peran utama. Lakon kita terbatas, hanya mampu menyemblih jeda. Setelah itu, menutup erat lagi. Sembunyilah sayang, mungkin sang Sutradara punya naskah lain, tentang masa depan kita.

Mawar, Aku kumbang mencoba bermain api dengan suamimu. Dan kau mawar menggigil menyambutku. Aku tenang, dan aku menang. Suamimu...ah...sudahlah..

Mawar...sayangku mendekaplah. Kita selesaikan hasrat. Lupakan saja suamiku...aku selalu siap mengantinya..kemarilah.

*Asri Ismail (31/8/2015)
Baca!!!

Friday, 3 July 2015

Perempuan di Atas Langit

Merendahlah kau dari peraduanmu.
 Semilir angin di taman, bunga-bunga. 
Matamu melirik sesekali dan aku tertarik. 
Kau terlalu jauh dalam angan.
 Aku ingin menyerumput kopi dalam kesan
 Dan kau memaniskan rasa, itu senyummu.

Selepas beberapa kepakan sayap 

Kau semakin terbatas mata 
Lalu dimana lagi aku mencari 
Segelas air mata kusiapkan demi memintal senyummu

Beberapa debar tatkala bayangan wajahmu menghampiri 

Semakin kudekati kau lagi-lagi hanya melempar senyum dan berpaling
Terbang jauh....

Ilustrasi (Foto : Google Search)

Kau menciptakan rumit dalam cerita 

Serasa kau meletakkan pistol di atas kepala, mengancamku lalu mematikan asa
 Saya butuh perangkap lalu menjebak batinmu

Aku bukan pendekar yang hebat dalam laga 

Jangan mengancamku lewat pikiran 
Deretan resah terlalu menyiksa 
Aku sedang tidak baik-baik saja bukan hati ini, pikiranku yang terlalu lama kau curi.

Berhentilah melangit

 Sesengit apapun caraku menangkapmu
 Kau tak akan tersakiti 
Sebab kau adalah cawan 
Kutuangkan peluk, biar kau tenang
 Bersandarlah...


 ***Asri Ismail (03/07/2015)
Baca!!!

Tuesday, 30 June 2015

Memeluk Sukses

Perlahan kamu mulai mengetuk pintu terdalam dari hatimu. Sedikit piluh, kau katakan kesuksesan tak ada yang melewati tol. Deretan cemas bersemayam. Coba mengikhlaskan dari apa yang pernah patah. Raut wajah sedikit kau poles agar tak teridentifikasi. Senyum. Datang dan kembali kau tata. Kau memang butuh jatuh, agar tahu rasanya sakit.

Cerita banyak orang, yang menyebut kesuksesan sebagai bertemunya harapan dengan kenyataan, menakar sejauh mana daya peluk yang kau tawarkan sebelum mengawali. Kadangkala, kau terlalu naif. Membiarkan kegagalan sebagai suatu takdir. Lalu berpaling.
Ilustrasi (Foto : Google Search)

Bukankah kau meyakini, bahwa diantara kegagalan-kegagalan yang ada, Tuhan menyiapkan satu keberhasilan. Selalu berikhtiar, sebab segala sesuatu itu bergantung niat. Bukan ajang coba-coba mengadu kompetensi. Ada yang bekerja di luar kendali. Saya katakan Tuhan sekali lagi.

Mari belajar perihal mengelola keikhlasan, bersikukuh dengan ego. Mematangkan kemampuan. Setelah bangkit. Meramu stimulus yang berkali-kali tak sempat disempurnakan. Memandang apa yang tersaji dalam etalase. Hindari ragu. Sekalipun ia kadang-kadang datang persis disaat kau lupa semangat.

Kita ini roda, berputar terus. Suatu masa dimana kemudahan selalu menghampiri. Segala doa begitu mudah terwujud. Dan fase ini berbalik arah, uji ketahanan mental terasa begitu berat. Kau mesti bangkit atas keterpurukan rasa. Dan itu susah. Tapi kita bukan kayu korek yang sekali pakai, kita bisa memanggil semangat kapanpun kita butuh. Harus kau yakini, bahwa dibalik itu "tepuk tangan" akan mendatangi.


Kondisi seperti tugas kita adalah melewati. Sebab di luar sana akan banyak rupa-rupa jalan yang kita jumpai. Tentu dibutuhkan, sedikit pengalaman dan kematangan. Bergegaslah. Janji Tuhan, tak ada yang sia-sia.

***Asri Ismail (30/6/2015)
Baca!!!

Sunday, 28 June 2015

Syair Jingga

Kuncup telah datang; sore kala itu
Penanda burung-burung merpati tak melangit
Dua pasang mata menyembunyikan tabir rindu
Bertemu di siluet senja, jarak asalnya.

Resah, gelisah, dan desah pijaran lampion
suara-suara angin menerka-nerka sejauh mana kesepian berlabuh.
 Itu bukan kamu yang menangisi lelahnya berjalan dalam pikiran.
Kamu itu bunga, kelopakmu tak pernah kering.
Musim mengangkatmu karena kematianmu menunggu kecupan yang telah lama hilang.

Ilustrasi (Foto : Google Search)
Sore kala itu..
Jingga kau katakan kuning..
Karena matamu tahu kabar duka dari langit
Di Tanah itu kuburan..
Kau tanami pohon yang kau beri nama harapan
kelak..kau berhenti di kata itu.

Pada guratan di ujung laut..
Hamparan jingga menyelimuti, kau masih menatap
Jingga...itu sesaat..
Spasi diantaranya rasa yang coba kau tenggalamkan bersama karamnya pedihmu..

Lonceng di kuil-kuil berbunyi, desiran..
Karena demi Tuhan..
Kau pemuja jingga, lupa pada yang menghitamkan
Berteriak saja...tak perlu mewarnai kecupan yang kau nanti..
Sajak kematian..hilang pelan-pelan.


*Asri Ismail (29/6/2015)

Baca!!!

Monday, 9 March 2015

Kekerasan Perempuan di Buku Teks (Refleksi Hari Perempuan Internasional)

Opini Koran Fajar (9/3/2015) (Foto : Pribadi)
Sejak ditetapkan Hari Perempuan Internasional (Women‘s Internasional Day) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8 Maret 1978 gelora kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender semakin meningkat.Tak pelak menjadi pemantik dengan hadirnya sejumlah organisasi dan komunitas perempuan di berbagai daerah. Termasuk munculnya delapan menteri perempuan di kabinet kerja ala Jokowi, terbanyak sepanjang sejarah kepemimpinan yang ada di Indonesia merupakan indikasi bahwa Indonesia menjunjung tinggi kesetaraan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan. Terdiskriminasi, termarjinalkan, dan terlecehkan yang dialami perempuan adalah spirit untuk melawan stigma yang terlanjur merebak di masyarakat.

Seperti yang diketahui bersama, perspektif gender bukan mengakomodir perbedaan biologis, tetapi lebih menyoalkan perihal kontruk sosial terkait nilai dan tingkah laku yang menyebabkan lahir sekte-sekte antara kaum maskulin dengan feminim dalam pranata sosial. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Peran pemerintah dalam menyukseskan konsep gender sebenarnya sudah sejak lama menjadi titik perhatian. Terutama di dunia pendidikan, pendidikan dengan segala perangkat pembelajarannya dianggap sebagai sarana yang efektif dalam proses pembentukan ideologi manusia. Ideologi yang dimaksud adalah ideologi kesetaraan gender. Keberadaan kesetaraan gender yang mulai dikampanyekan oleh pemegang kebijakan tersebut meliputi gender sistem pendidikan, pengajaran, dan perangkat pembelajaran yang ada di sekolah.

Sadar atau tidak, salah satu perangkat pembelajaran yang dimiliki siswa saat ini yakni buku teks, ternyata berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh sejumlah akademisi begitupula pernah diteliti penulis, menemukan adanya peristiwa seksis yang ada di buku teks. Misal, pada buku Bahasa Indonesia kelas VII untuk SMP/MTs penulis mengidentifikasi masih banyak teks-teks yang bias, dominasi laki-laki masih nampak secara dikotomis. Baik struktural maupun wilayah kerja. Belum lagi buku siswa dari disiplin ilmu yang lain, tentu tidak bisa dipungkiri polarisasi gender masih menjadi bahan yang tak disadari secara alamiah.

Kaum feminis seperti Sara Mills menguraikan bahwa kekerasan perempuan banyak terjadi pada teks, baik dalam novel, gambar ataupun dalam berita. Titik perhatian dan perspektif wacana feminis, menunjukkan bagaimana teks biasa dalam menampilkan Perempuan. Perempuan cenderung ditampilkan dalam teks sebagai pihak yang salah, marjinal dibandingkan dengan pihak laki-laki. Ketidakadilan dan penggambaran yang buruk mengenai Perempuan inilah yang menjadi sasaran utama dalam tulisan Mills. Analisis wacana yang disampaikan menunjukkan bagaimana wanita digambarkan dan dimarjinalkan dalam teks, dan bagaimana bentuk pola pemarjinalan itu dilakukan. Ini tentu saja melibatkan strategi wacana tertentu sehingga ketika ditampilkan dalam teks, wanita tergambar secara buruk.

Sepanjang pengamatan penulis, buku pegangan siswa dalam hal ini buku pelajaran terdapat empat titik yang kerap diindentifikasi terjadi bias gender. Seperti pada uraian materi, soal latihan, dan teks bacaan serta gambar ataupun ilustrasi, padahal keempat aspek tersebut merupakan rambu-rambu yang perlu diperhatikan secara seksama. Hanya saja, pada kenyataannya Departemen Pendidikan Nasional belum secara serius menyorot pemilihan kata-kata atau teks yang ada untuk dijadikan sebagai bahan ajar dan alat evaluasinya.


Beberapa ketidakadilan gender bisa diamati dengan memerhatikan melalui komponen-komponen penting tersebut. Semisal, dalam buku teks seringkali gambar atau pun ilustrasi laki-laki ditampilkan sebagai kaum yang superior sementara perempuan dihadirkan sebagai kaum inferior. Laki-laki biasanya dimunculkan dalam gambar sebagai seseorang yang berprestasi, kuat, dan memiliki pekerjaan yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, yang bekerja di sawah, di kantor ataupun di jalan selalu saja ilustrasi yang ada adalah mayoritas laki-laki. Perempuan malah ditampilkan dalam kondisi “buruk”, seperti lebih banyak ditampilkan bekerja di wilayah domestik, gambar seorang ibu atau wanita sedang memasak, menyapu, mengasuh anak. Begitupula, jika terkait dengan taman bunga atau boneka pasti objek utamanya adalah perempuan. Semestinya kita menyadari sepenuhnya bahwa gambar/ilustrasi dalam buku ternyata menjadi media yang dapat menanamkan  ingatan yang kuat pada anak didik dan diterima lebih konkret.

Kontruksi gender pada buku teks tersebut secara tidak langsung telah memengaruhi sejumlah paradigma. Berbagai bentuk pencitraan yang dilakukan laki-laki dan sebaliknya perempuan ditampilkan sebagai kaum yang lemah, lembut, sopan, dan berada di atas bayang-bayang kekuatan laki-laki. Pada teks bacaan misalnya, mayoritas cerpen atau hikayat yang disajikan kebanyakan bercerita tentang perjuang seorang laki-laki, sedangkan perempuan di deskripsikan sebagai korban atas kebiadaban. Menurut Sara Mills, para pembaca (siswa) lebih mengidentifikasi dirinya menggunakan kode budaya yang berlaku di benak pembaca ketika menafsirkan suatu teks. Suatu teks memunculkan wacana secara bertingkat dengan mengetengahkan kebenaran secara hirarkis dan sistematis, sehingga pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan karakter atau apa yang terjadi di dalam teks (Eriyanto, 2001:208).

Uraian tersebut membuka mata kita, ternyata di tengah perjalanan para pejuang gerakan feminisme ada penyimpanan-penyimpanan yang tak bisa ditangkap kasat mata, tapi memerlukan tafsiran mendalam untuk membongkar setiap makna yang ada dalam buku teks. Akibatnya, bisa saja merusak ideologi peserta didik. Belum lagi konflik streotipe, subordinasi dan beban kerja yang mendiskreditkan perempuan. 

Berdasarkan penggambaran atas kekerasan perempuan dalam teks, tentunya diharapkan para tenaga pengajar (pendidik) lebih memiliki kepekaan gender dalam proses belajar mengajar. Guru dalam hal ini mampu menangkap dengan cekatan jika melihat ketimpangan-ketimpangan gender yang ada dalam kelas. Tentunya, bukan hanya guru, namun setiap orang semestinya menginisiasi dirinya sendiri untuk menjalan konsep gender dan membudayakannya dalam ranah masyarakat. Sehingga perempuan mampu bersaing secara sehat dengan lawan jenisnya dalam hal apapun, terkecuali kodrat (jenis kelamin). Akhirnya, penulis mengaturkan selamat merayakan Hari Perempuan Internasional 2015.

Tulisan ini juga diterbitkan di kolom Opini, Koran Fajar edisi 9 Maret 2015



Baca!!!

Wednesday, 4 March 2015

Ayah (Sebuah Gejala Kebahasaan)

Akhir-akhir ini ada virus pergaulan yang menyerang remaja Makassar, munculnya istilah “Ayah” yang kerap dijadikan sebagai goyunan para anak muda dalam komunikasi sehari-hari menjadi trending topik di berbagai media lokal. Kata Ayah yang diiukuti sejumlah morfem lain yang berbentuk klausa maupun kalimat  yang bersifat kontekstual menarik perhatian para penggiat sosial media (Sosmed) hingga dijadikan sebagai bentuk percakapan informal. Dan kata-kata itu pun disampaikan menggunakan khas dialek Bugis-Makassar. Yang menarik sebenarnya lantaran leksem atau kata tersebut dikolaborasikan dengan gambar ataupun ilustrasi yang menampilkan sosok laki-laki yang bergaya perempuan, di Makassar kita kenal dengan sebutan bencong alias banci. Beberapa sumber mengatakan, asal muasal kata ini memang berasal dari kalangan waria. Meski hingga saat ini, belum jelas siapa yang pertama kali memperakarsai kata tersebut hingga menjadi fenomenal. Misalnya Bampaka Ayah, Kunci leherka Ayah, atau Ayah Bunuhma Takkala Hancurma, Mauka ke Jakarta Ayah karena Makassar Tidak Aman. dan masih banyak lagi berhamburan di berbagai jenis media sosial dan jejaring sosial. Kalimat seperti itulah yang kemudian dikreasikan dalam bentuk Meme. Perlu diketahui, Meme disini diartikan sebagai seni mengelola pesan digital. Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai sebuah ide, kebiasaan atau gaya yang menyebar dari orang ke orang dalam suatu budaya. Tujuannya selain sebagai bahan hiburan ada juga yang sifatnya sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial dan budaya saat ini.
Opini Tribun Timur (3/3/2015)

Maraknya Meme seperti itu, membuat penyebutan Ayah menjadi hal yang menjijikan dikarenakan dikemas dengan ilustrasi seorang banci seksi yang menyertai ujaran “Ayah”. Baik dalam proposisi dan tuturan pada sturuktur kalimat  yang ada. Lihat saja dari sejumlah meme yang ada, kata Ayah menjadi unsur yang paling ditonjolkan dalam klausa atau kalimat. Dalam tinjauan Sintaksis, Ayah ditempatkan sebagai kata pembentuk utama pada konstruksi strukur bahasa. Kata Ayah diposisikan sebagai subjek yang pasif. Misalnya, Ayah, Bakarma saja (Ayah, bakar saja saya) Ayah kunci leherka (Ayah tolong kunci leher saya). Kedua klausa tersebut terindetifikasi mengadung unsur predikatif yang memberikan kebebasan subjek berbuat apa saja. Keduanya juga bisa berfungsi sebagai kalimat imperatif, yang memerintahkan subjek.

Terlepas dari  tujuan utama dari lahirnya panggilan ayah di kalangan pemuda. Ada hal yang menimbulkan keperihatinan bagi penulis, sadar atau tidak, kata Ayah berimplikasi negatif, sehingga mengalami pergeseran makna. Hal ini sangat bertentangan dengan arti sebenarnya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat, Ayah memiliki makna bahwa orang tua kandung laki-laki; Kata sapaan kepada orang tua laki-laki. Begitu pula dalam tinjauan Semantik, kata Ayah bisa diselidiki dari makna gramatikal dan leksikal. Secara gramatikal, kata ini belum mengalami proses gramatikal masih berupa kata dasar. Tetapi karena mengalami penambahan leksem akibatnya terjadi pemajemukan misalnya dalam klausa Bampaka Ayah, kalau tidak disayangma (Pukul saya Ayah, kalau memang saya sudah tidak disayang) jika ditafsirkaan secara umum, kita menangkap makna bahwa ada seorang anak yang meminta dipukul oleh Ayahnya. Pengaruh asosiatif kalimat menyebabkan nilai rasanya yang berbeda karena ada sesuatu yang berada di luar bahasa, yang dimaksud adalah gejala ujaran yang terjadi. Ayah diartikan sebagai panggilan sayang untuk seorang kekasih yang diperuntukkan bagi kaum laki-laki sehingga Ayah mengalami peyorasi (penurunan makna). Akan tetapi, jika menggunakan kacamata gramatikal bebas maka maknanya sudah tepat dikarenakan pengaruhi dengan kondisi budaya yang ada di Makassar. Sementara secara leksikal, Ayah dianggap sebagai suatu keutuhan yang berdiri sendiri, maknanya secara lepas di luar konteks yang mengikutinya (struktur klausa atau kalimat), berarti sama dengan makna yang ada pada KBBI.

Sementara  pada tinjauan Pragmatik, misalnya kalimat berikut,  di Bandarama Ayah mauka ke Jakarta, Makassar tidak aman. Kalimat kausalitas tersebut masih menggunakan kata Ayah dalam teks sebagai bentuk kritik atau perlawan terhadap kondisi yang dihadapi. Jika ditelisik dalam perspektif Pragmatik, kalimat tersebut berupa tindak perlokusi yang impilikaturnya berupa ketidaksenangan tinggal di Makassar, dengan praanggapan bahwa Makassar tidak aman. Ayah dalam hal ini sebagai suatu deksis, dimana maknanya mengalami perubahan secara leksikal. Seperti dikatakan dalam buku Cahyono (1995) mendefinisikan deksis sebagai suatu cara yang dipakai untuk mendeskripsikan makna yang diacu oleh penutur dan pengaruh situasi pembicaraan.  Pragmatik bagi Kridalaksana salah satu tokoh linguistik Indonesia mengatakan pragmatik diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Seperti penempelan-penempelan kata Ayah dalam kalimat.

Dalam tinjauan Sosiolinguitik, dikenal dengan nama bahasa prokem atau bahasa gaul. Hampir diseluruh lingkup pendidikan yang ada wilayah Makassar terutama anak sekolahan dan mahasiswa teridentifikasi gemar memakai tuturan itu, diolah dengan maksud menciptakan ruang-ruang yang bersifat lelucon, kritik, dan sajian kalimat yang memainkan kata Ayah dalam pelbagai bentuk tuturan sehingga menjadi sesuatu yang menarik. Fenomena kebahasaan seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya terjadi di Makassar. Sebelumnya muncul kata “anjing”, “sundala”, dan “kakak”. Kata-kata umpatan itu juga berimplikasi positif. Tidak lagi seperti makna semula. Semisal kata “Sundala” yang digunakan dalam kalimat, Sundala, cantiknya ini cewek. Morfem sundala disini dimaknai sebagai sesuatu rasa kagum atau pujian. Begitupun dengan kata Ayah, hanya saja justru kata ini mengalami perubahan makna ke arah yang negatif.

Kajian Sosiolinguistik yang mengkaji tentang bahasa, masyarakat, dan budaya. Memandang bahwa ketiga kompenen tersebut memiliki peran dalam membentuk munculnya istilah-istilah baru. Pandangan Ferdinand de Saussure (1916) salah satu tokoh linguistik modern menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya telah memberi isyarat akan pentingnya perhatian terhadap dimensi sosial bahasa. Peran pemuda atau remaja sebagai penutur aktif dalam lingkup sosial sangat menentukan hadirnya kosakata yang mengalami perluasan makna dengan memilih diksi yang coba diasosiasikan dengan keadaan sosial. Terkait peristiwa sosial yang aktual, terutama di Makassar. Dalam beberapa bulan terakhir, maraknya aksi geng motor yang terjadi, membuat para nitizen tak ingin ketinggalan dalam mengulas, terutama dalam membuatkan meme. Hampir semua foto ataupun ilustrasi yang dipublis berupa kiritikan konstuktif tentang bagaimana membasmi geng motor. Gejala-gejala kebahasaan ini sangat penting untuk diperhatikan masyarakat, tidak hanya ikut menjadi “konsumen” yang memakan apa saja kata-kata baru yang dinilai terkenal dan enak kedengaran. Terakhir, setelah munculnya kata-kata Ayah, sekarang disusul lagi dengan adanya kalimat pelesetan baru, yakni “Di situ kadang saya merasa sedih” sebenarnya kalimat ini, kalau dianalisis berperan sebagai akibat dari apa yang terjadi. Misalnya kalimat sebab-akibat berikut, “Ketika melihat teman-teman wisuda, di situ kadang saya merasa sedih”.

Lahirnya berbagai istilah-istilah baru, tentu tidak lepas dari hegemoni sosial media yang menjamur. Masyarakat cenderung menjadikan tolok ukur jejaring sosial sebagai wadah hadirnya beragam jenis istilah yang menarik jika diaplikasikan dalam percakapan sehari-hari. Terlepas dari tepat atau tidaknya penggunaan istilah dalam suatu masyarakat,  hal ini membuktikan bahwa bahasa sebagai suatu yang dinamis mengikuti perkembangan yang ada. Selain itu, ini juga menjadi ajang permainan bahasa oleh masyarakat berkembang.

 Tulisan ini juga terbit di Koran Tribun Timur, edisi 3 Maret 2015...

*Asri Ismail (5/3/015)
Baca!!!

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...