Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, 15 November 2016

Semalam dengan Diam

Ilustrasi (Foto: Int)
Kekasihku
Kau seperti lautan yang bisu
Aku tak menangkap apapun dari matamu
Kosong dan semua keheningan merestui
Aku yang luput dari semua itu

Kekasihku
Aku hanya ingin menyerupai bayangmu
Dan kau masih saja diam
Masihkah atas nama luka?
Hingga kau bungkam aksara-aksaramu

Kekasihku
He..he..tak narasi yang sanggup aku susun
Pertemuan berdurasi 10 menit itu, hening
Namun, dari sekian banyak sajianmu
Senyummulah yang paling menarik

Sayang
Jika kau minta sepucuk, ada beberapa bait yang kutulis
Tentang malam dan kenangan.
Tapi cukup itu saja
Ada beberapa larik yang lumpuh karena diammu

Tak ada hujan atau gerimis, tapi kau menangis
Setiap kupeluk, kau eratkan
Aku kuyub

Suguhan ini dan aku yang malang
Bertepi, puncak
Semalaman


(Malang, 15/11/2016)





Baca!!!

Monday, 31 August 2015

Mawar dan Suaminya

Telat kumengenalmu,  penyesalan itu yang tak bisa kubendung. Waktu mengajari kita tentang bagaimana mencurinya disela rindu yang tak tertahan. Dengan apa aku menyapamu selain menawari peluk yang tak kau dapat dari suamimu.

Mawar begitu saya memanggilmu. Kesepianmu yang mempertemukan kita. Bulan purnama, aku mengeja namamu yang buta makna. Yang ku tahu, kau menenggelamkan keindahan lain. Aku lupa cara mencintai wanita lain. Tapi suamimu, duri yang menjagamu.

Kau selalu menjanjikan kesetiaan atas pengkhinatan dengan laki-laki yang memberimu buah hati. Katamu, Tuhan tak adil. Kau juga menyalahkan rasa. Dengan tabah aku menemani tubuhmu yang kuyub.

Ilustrasi (Int)
Kita menciptakan kisah dimana suamimulah yang memainkan peran utama. Lakon kita terbatas, hanya mampu menyemblih jeda. Setelah itu, menutup erat lagi. Sembunyilah sayang, mungkin sang Sutradara punya naskah lain, tentang masa depan kita.

Mawar, Aku kumbang mencoba bermain api dengan suamimu. Dan kau mawar menggigil menyambutku. Aku tenang, dan aku menang. Suamimu...ah...sudahlah..

Mawar...sayangku mendekaplah. Kita selesaikan hasrat. Lupakan saja suamiku...aku selalu siap mengantinya..kemarilah.

*Asri Ismail (31/8/2015)
Baca!!!

Friday, 3 July 2015

Perempuan di Atas Langit

Merendahlah kau dari peraduanmu.
 Semilir angin di taman, bunga-bunga. 
Matamu melirik sesekali dan aku tertarik. 
Kau terlalu jauh dalam angan.
 Aku ingin menyerumput kopi dalam kesan
 Dan kau memaniskan rasa, itu senyummu.

Selepas beberapa kepakan sayap 

Kau semakin terbatas mata 
Lalu dimana lagi aku mencari 
Segelas air mata kusiapkan demi memintal senyummu

Beberapa debar tatkala bayangan wajahmu menghampiri 

Semakin kudekati kau lagi-lagi hanya melempar senyum dan berpaling
Terbang jauh....

Ilustrasi (Foto : Google Search)

Kau menciptakan rumit dalam cerita 

Serasa kau meletakkan pistol di atas kepala, mengancamku lalu mematikan asa
 Saya butuh perangkap lalu menjebak batinmu

Aku bukan pendekar yang hebat dalam laga 

Jangan mengancamku lewat pikiran 
Deretan resah terlalu menyiksa 
Aku sedang tidak baik-baik saja bukan hati ini, pikiranku yang terlalu lama kau curi.

Berhentilah melangit

 Sesengit apapun caraku menangkapmu
 Kau tak akan tersakiti 
Sebab kau adalah cawan 
Kutuangkan peluk, biar kau tenang
 Bersandarlah...


 ***Asri Ismail (03/07/2015)
Baca!!!

Sunday, 28 June 2015

Syair Jingga

Kuncup telah datang; sore kala itu
Penanda burung-burung merpati tak melangit
Dua pasang mata menyembunyikan tabir rindu
Bertemu di siluet senja, jarak asalnya.

Resah, gelisah, dan desah pijaran lampion
suara-suara angin menerka-nerka sejauh mana kesepian berlabuh.
 Itu bukan kamu yang menangisi lelahnya berjalan dalam pikiran.
Kamu itu bunga, kelopakmu tak pernah kering.
Musim mengangkatmu karena kematianmu menunggu kecupan yang telah lama hilang.

Ilustrasi (Foto : Google Search)
Sore kala itu..
Jingga kau katakan kuning..
Karena matamu tahu kabar duka dari langit
Di Tanah itu kuburan..
Kau tanami pohon yang kau beri nama harapan
kelak..kau berhenti di kata itu.

Pada guratan di ujung laut..
Hamparan jingga menyelimuti, kau masih menatap
Jingga...itu sesaat..
Spasi diantaranya rasa yang coba kau tenggalamkan bersama karamnya pedihmu..

Lonceng di kuil-kuil berbunyi, desiran..
Karena demi Tuhan..
Kau pemuja jingga, lupa pada yang menghitamkan
Berteriak saja...tak perlu mewarnai kecupan yang kau nanti..
Sajak kematian..hilang pelan-pelan.


*Asri Ismail (29/6/2015)

Baca!!!

Thursday, 15 January 2015

Demokrasi Bau Terasi

Sekejap...sekejap..beranjak
Tabe', mohon izin, saya sedikit
Ada banyak suara di sana
Kontruksi dari berbagai sisi
Cukup berbobot, ada juga asal ngomong

Semua bebas asal dapat izin
Ada yang mencela dan kasihan yang dicela
Suara lantang mungkin ingin menang
Ilustrasi (Foto : Google Search)
Mereka menantang, entahlah ini membingunkan

Ala...Demokrasi
Satu persatu ditemukan banyak cacat
Tak terstruktur bahkan tak tahu diri
Ini pesta demokrasi di ruang gelap
Mari meraba kebenaran
Kita sama-sama melucuti kepentingan

Maaf..
Ini sudah jauh
Kita terdampar pada wilayah rasa
Di sudut idealisme tampak logika patah

Bung..
Demokrasi itu menganggu
Baunya seperti terasi

(Asri Ismail) Semarang, 29 Mei 2014----Puisi Lama

Baca!!!

Friday, 5 December 2014

Jenazah Demokrasi

Tengoklah manusia-manusia serakah itu
Bertopeng banyak warna, saling menghakimi
Kebijakannya mengkhianti rakyat
Karena perut, semua disesatkan
Keadilan sudah mati bersama perihnya luka demokrasi

Ilustrasi (Foto : Int)
Kita dipertontonkan perang partai
Elit-elitnya tak henti saling mencaci
Lantas, kemana lagi masyarakat meminta harap?
Jika segalanya disiasati, manusia pragmatis..

Hukum di negeri ini pun ikut-ikutan tebang pilih
Kerap salah iris, manusia banyak yang kebal hukum, ironis.
Tolong berhenti bicara pasal, tetek bengek moral kita masih asal-asalan

Lalu mari perhatikan segala lini, hambar tak berisi
Pendidikan masih berkutat sistem
Berganti strategi, katanya demi kualitas
Kitab itu belum genap setahun berjalan sudah ditutup
Kasian anak bangsa, linglung..

BBM baru saja melonjak
Semburan protes tak ada guna
Di jalanan mahasiswa berteriak, pemerintah bersembunyi di bawah ketiak
Lalu dengan lantang sang penguasa bilang ini demi rakyat
Lantas kenapa banyak air mata pilu
Berhenti tutup mata, wahai kalian produk pemilu

Di ujung sana, penindasan berlangsung...
Siapkan keranda mayat, demokrasi ditikam kepentingan
Lahan tak cukup menampung, alirkan saja di sungai air mata
Tolong berhenti bodoh-bodohi kami, pintar...
Setengah tiang, kibaran bendera mengantar jenazahmu..


*Asri Ismail (6/12/14)




Baca!!!

Thursday, 4 December 2014

Peziarah Desember

Duka desember menuntun haluan
Bulan penghujung tahun
Kita bernama cerita dalam dekapan waktu
Berlalu bersama hitungan masehi pula

Masih cerita desember, uraian sajak kaki
Di atas ranjang, kita membasuh harap
Ini bagian ranting kehidupan, sakit itu lupa
Ujungnya lelah pada pergulatan nikmat
Selamat datang, benih. Selalu ingin.

(Foto : Int) Ilustrasi









































Masih cerita desember, Metamorfosis
Namanya tumbuh berkembang, mengelilingi lorong.
Bertemu luka dan kadang tersiksa rindu
Tertawa, senyum, menangis menanti antrian
Lalu, lahir penghuni baru, seperti makhluk

Desember, akhir tahun berdua segala cerita
Mendekati kesunyian langit dalam hangat
Semakin gelap, gemercik hujan membanjiri
Urutan ke 12, sebentar lagi berulang. Akhir...
Dimana kumbang tak lagi cari kembang. Lalu...
Aku berjalan mencari, hulu cerita. Memulai...

Masih cerita desember, lampiran terakhir
Taman manusia tanpa nyawa. Raga menghuni tanah.
Bunga Kamboja tumbuh disana. Medan laga.
Kupu-kupu lalulalang, malam kunang-kunang.
Sesekali disirami bukan bunganya. Batu diatas
Sementara nisan-nisan luka, ada air mata meluapinya. Penuh Kenang..

*Asri Ismail (4/12/14)
Baca!!!

Tuesday, 4 November 2014

Wakil Rakyat Yang Maha Kuasa


Nasib bangsa dipertaruhan, dagelan politik dipertontonkan
Anggota dewan bermain spekulasi, perang argumentasi hanya taktik
Ini bukan demokrasi, ego mainan partai.
Kasian, cerita kedamain publik ternyata hanya ilusi.
Kepentingan rakyat nomor sekian, karena partai dewa penyembahan

Mereka berebut atas dasar kebaikan, itu subjektif bung.
Kami melihat balada itu diatas skenario yang ekspresif
Mari belajar dari orang penentu takdir, wakil rakyat namanya
Terlalu banyak bicara, pencipta janji. Berhenti tipu kami.

Wakil rakyat, wibawamu terlalu politis, palu sidangmu meninggalkan sakralnya.
Tengoklah, kami yang mencaci maki gayamu.
Pikiranmu tak panjang, sekali bertantangan pendapat, kamu banting meja.
Kalian simpan dimana label intelekmu? Sepertinya dilaci meja.

Mungkin butuh cermin, tidak kah kalian lihat kumismu, ubanmu, wajahmu, terlebih umurmu?
Tolong ceritakan kami, seperti apa caramu melewati masa kanak-kanak.
Sepertinya kalian masih butuh Guru TK, untuk mengajari bagaimana carannya pipis, dan makan.
Ha..ha…ha….dunia menertawakan kita Pak, Bu’.

(Foto : Internet Searching/AntaraNews)

Wakil Rakyat yang baik, tolong sisipkan sedikit jeda memikirkan kami.
Masih ingatkan ribuan janjim dulu? Atau sudah pura-pura lupa.
Jangan bodoh-bodoh kami pak, cukuplah kamu dibodohi partai.
Selamat bekerja di negeri ini para pengumbar janji….


**Asri Ismail
Baca!!!

Sepotong Cerita Petang


Bentang tarik merona jinggamu. 
Pada kerinduan yang memulai hadirnya. 
Fase ini, untuk kesekian kalinya aku menanti. 
Tak ada jarak, kita hanya berada di persimpangan.
Petang menyulam rindu, tentang senyum itu yang menantang. 

Siang tadi, kita masih sama. 
Berjalan, dan berpisah sesaat kemudian. 
Sebelum tenggelam ada uraian cerita. Banyak hal. 
Termasuk pelukan merekat. 

Dari sudut tembok, senja menawari ruang. 
Kataku, kenapa belum tuntas. 
Seputar langit yang sebentar lagi menyudahi siang. 
Pergi meninggalkan permisi. 

Cukup tahu, rona itu menyimpan sejuta rasa. 
Aku berlabel rindu dari sekian sajiannya.
Petang datang, malam menunggu antrian. 
Cibiran bermulut-mulut mungkin akan berakhir, sepertinya. 
Kesepian, selamat datang. 
Bermalamlah...


**Asri Ismail

Baca!!!

Dusta Hujan


Angin tak henti-hentinya menarik terik. 
Suguhan langit pada kesetiaan menyinari. 
Lewati bulan-bulan, waktu bersama cahayanya. 
Kunang-kunang berhenti menjaga malam.

Bunga, termasuk di taman.
Masih belajar perihal kuncup, mekar jangan ditanya. 
Kemarau sore, pagi, siang juga malam. 
Padang ilalang, kau sebut bunga-bunga. 
Sampai kapan dusta berhenti menuai.

Air, lengkap dengan segala pembelaannya. 
Hari ini dan beberapa puluh hari sebelumnya, kita menikmati pertanyaan sama. 
Kenapa belum juga datang? Rentang waktu belum menjawab. 
Itu hujan. 

Kali ini, kita menanti padang. 
Dengan tawaran oase menahan haus. 
Lihat mereka Tuhan, manusia bersama ilusinya. 
Air mata langit, tak kunjung bertandang. 
Mungkin butuh pukulan, bahkan tikaman, katanya supaya menangis. 
Ah..aku juga seperti mereka.

Pohon tahu, kenapa daun lama berganti hijau. 
Pula, ikan atas air menggenanginya. 
Dan penghuni-nya yang kita sebut manusia, lelah karenanya. 
Berhentilah, berpura-pura atas murammu, langit.

(Foto : Searching internet)


Kini, kita memikul harapan. 
Untuk langit berserta empu-Nya. 
Kabari kedatanganmu, agar tidak ada haus yang mati atas khianat hujan. 
Lagi-lagi, kami minta ganti cobaan ini. 
Hujan terlalu lama sembunyi, semoga tak lupa, Tuhan. 


**Asri Ismail
Baca!!!

Saturday, 25 October 2014

Jejaki Lawan


Malam gerhana, bulan menarik perhatiannya.
Bunga tak kunjung kuncup, mawar menenteng gelap.
Menawari nyanyian mungkin tentang santapan malam.


Rindu mengafiliasi senja, kita tertawan tawa.
Bukan kiamat, tanda pelarian kata pada maknanya.
Jangan bersedih, peluk lepaskan langit. 


Jangkrik menderingkan, batu-batuan tak bertanam.
Kita berikhtiar pada sang Pemilik.
Lewati lirik yang membaca.
 

Kata kamu, itu di atas. Pentas gemerlap bintang.
Tak mendampingi, memilih mendekati.
Lagi, kita berlari. 


Esok, cerita bersama meja untuk sajiannya. 
Kita masih tertawa, surutkan gelisah. 
(Gambar Internet : Google Search)
Peluh menindas di tengah yang rawan.
Tembok terhalang dinding, kamu masih saja lupa.


Ini Tentang jejak, sepertinya tak menggores.
Mungkin penyakit.
Disela-sela tiupan, kita menduduki.
Tak melawan.



Asri Ismail, Kost-nya Allink (Oktober 2014)
Baca!!!

Friday, 24 January 2014

Tangkai Rapuh


Daun itu bergantian merintih
Kulitnya melepuk, angin tak lagi sudih meniup
Senja terlalu dini mengindahkan
Ranting masih setia menopang beberapa diantaranya
Daun lagi-lagi jatuh…
Ilustrasi (Gambar : Google Search)

Ada bunyi seruni jauh disana
Lambaiannya mengikuti ritme udara yang bergerak
Sesekali ia meneteskan air mata
mengaliri ketegakan pohon

Entah rahasia apa yang disembunyi Alam
Nyawanya tiap kali terancam
Banyak cerita memberita tentang hidupnya
Malam, menyediakan pekat
Siang, tak pernah merekat
Oh Tuhan hadirkan teman untuk dia

Terlalu banyak resah disimpan
Tak ada penyangga hidup disediakan
Sebentar lagi ia gugur meninggalkan dunia
Sebab, daun itu tumbuh di tangkai rapuh.


Asri Ismail
di 
Kost Allink (24/1/2014)






Baca!!!

Friday, 10 January 2014

Lelahmu Berkeringat (Ayah)

Ayah…

Erat sekali caramu menjabat tanganku, itu kemarin.
Di depan rumah, ada air mata bersembunyi
Angkutan biru menunggu sejak subuh
Langkahmu memberatkan semangat, itu pagi.
Bibirmu bergetar, saat mendekapku…

Ayah…

Kami tahu kamu lelah, kaki itu kaku
Sesaat suara Ibu memanggil namamu
Ketika beberapa pijakan lagi, mobil melaju
Tas, karung berisi bekal menyanggal disela senyummu
Tak ada isak tangis terdengar, ia lagi-lagi kau sembunyikan disesakmu
Sekali lagi kamu jabat tanganku..
Ilustrasi (Foto : Google Search)

Langit runtuh, sabda Tuhan mengamini perjalananmu
Ibu masih saja setia dengan Mina, cucu yang kamu titip
Saudaraku, Iparku mengikuti inginmu kesana…
Lambaian harapan menyorot di mata..
Kau pun pergi ke Negeri Jiran
Di sana ada menara kembar, berpaut dengan hati yang hambar..

Ayah..

Rasanya, jari-jarimu sudah tak kuat menahan
Saya tahu, kala itu sebelum ke perantau
Dirimu membelai dengan untaian kata
Sesekali mengusap keningku
Aku termenung di bawah kesunyian, itu malam

Ada setetes keringat jatuh tepat di pergelanganku
Sengaja tak kuhapus…naluri-ku bermain
ia menggores, memengaruhi perbincangan kita, itu malam
Selang beberapa jam sebelum cerita  berlalu.
Demi masa depanku, kau mengurai jejak-jejak
Ranting pohon itu lagi-lagi menggugurkan daun
Pagi sudah datang menyaksikan…
Ketika daun terbawa angin, lelahmu masih saja berkeringat.


Untuk Ayahku Tercinta..(11/1/2014)
di Kost…


Baca!!!

Wednesday, 27 February 2013

Mr. Alex Masih Anak-anak


Kau berlagak layaknya sang Raja, perintah sana-sini tapi tak punya nurani
Aroma bau-mu seolah-olah harum tapi dikerumuni lalat-lalat sampah
kau masih saja tertawa diatas luka hati kami…

Alex ini bukan nama-mu, tapi ini nama yang kami buat untuk kamu
di mata kami, kamu itu biadab, lebih biadab dari Hitler
Membunuh langkah kami, dengan menikam hati kami
Berhentilah berdiri di sudut mata kami
Kami bosan dengan raga-mu yang bertopeng kemunafikan

Ha..ha..ha…ha..ha…..

(Inter)
Ternyata Mr. Alex masih anak-anak
Ia sudah menikmati hidup 57 tahun silam

Namun belum belajar akan kedewasaan

Setiap hari ada orang membicarakan dirinya
isu paling hot disandangnya sepeken terakhir ini

tapi Mr. Alex masih saja menari-nari dalam kesendiriannya

Ternyata Mr. Alex masih anak-anak
cucu-cucunya ada dimana-mana

tapi lucunya, tak tahu mencucui anak-anaknya

Pikiran-mu masih saja kolot
Ngaku cerdas, tahu segalanya
Walau mengabaikan perasaan kami
Percuma bicara akan rasionalisasi
Otaknya tak bisa lagi dirasionalkan

Pemarah, Egois,Beringas,  itu karakter kamu
Miris, buah bibirnya semanis gula tapi mengeluarkan bisa
ah, terlalu sadis cara-mu Mr. Alex

Katanya hanya sampai di leher
lalu kenapa setiap hari kamu menampakkan wajah kecut
sepertinya ogah melihat wajah kami

Ternyata Mr. Alex masih anak-anak
umur sudah lebih setengah abad
persoalan adat dia angkat tangan

Mata-mu, tidak untuk kaum adam
hanya kau hawa yang cantik menurutmu jadi santapan
Keseharian-mu hanyalah berupaya menjinakkan wanita-wanita idaman-mu

Ternyata Mr. Alex masih anak-anak
Ayo bermain petak umpet bersama kami…(Asri_Ismail)

SMAN 2 WT,SOPPENG, (28/2)
Baca!!!

Sajak-sajak Itu Menggodaku

Inter.
Puisi hari ini, 27 Februari 2013

Sajak Itu Menggodaku


Puisi hari ini, 27 Februari 2013

Sajak Itu Menggodaku

Kumandang adzan di masjid masih saja mencoba mengetuk hatiku
Tapi, aku tak jua bergegas, aku masih saja pasrah dengan kenikmatan ketenanganku
Diantara riuh bunyi petikan gitar yang dimanjakan jemari-jemari yang tak mampu bersajak.

Lalulalang orang-orang sekamarku, perbincangan yang sudah tak asing lagi mencerca telingaku, aku masih saja diam. Hanya gumang hati yang kadang menggeruti batinku.

Sebuah kasur berwarna kemerahan bermesraan dengan kasur biru itu..
lalu setumpuk bantal ikut nimbrung mengamati kisah asmara mereka.

Aku..masih saja mencoba mengobati lelah yang tertimbung dari pergulatan siang tadi
di kasur itu, aku mengusik ketenangannya, imajinasiku melayang tinggi hingga logikapun terbantahkan.

Tuhan, jika ada kata diatas kata maaf…biarkan aku menasbihkannya
Aku terlalu sering mengabaikan suara bibir-Mu
Menutup telinga ini dengan pikiran Schorates

Buku bersampul hitam, entah berapa jam sudah berada dalam pelukan kedua tanganku
“Lelaki Idaman para Bidadari” klausa yang kunamakan judul berhamburan di muka buku hitam yang terjamah tangan ini.

Ah, ternyata kekuatan tulisan ini telah memercikkan doktrin
pikiranku kembali melayang, mematuk-matuk barisan kalimat yang berjejeran
terlibas lagi fisik, lelah pun kembali tertuang

Kau buka baju, hingga tak sehelai pun terpakai di hadapan kedua mata ini
kau pun tidak mencoba merangsang nafsu
bahkan, bagiku kau tidak seksi
sebab kau hanya lah kumpulan dari hasil olahan otak Dia

Hanya saja, kau telah berhasil menelanjangi pikiran
Hingga memasung raga-ku

Tuhan, aku digoda oleh sajak-sajak buku ini..
Maghrib-Mu, aku abaikan lagi…( Asri_Ismail)

Posko KKN-PPL, Kec. Lalabata, Soppeng (27/2)
Perut pun Memarahiku

Setumpuk ativitas hari ini memaksaku menuliskan deretan sejarahnya
aku tengkurap diatara hingar bingar gelak tawa
Laptop itu mendekap dalam sorot mataku

Ah…baru satu halaman tertuang kata-kata tak bertuan ini
aku bingung, berapa peragraf lagi mesti aku lukiskan setiap lariknya
Aku coba lagi menyalakan korek dan membakar sebatang rokok yang terjepit di bibir
sesekali aku menghembuskan asap-asapnya

Nikmatnya, malam menaruh sepi yang terbuai kerinduan hening
Tiba-tiba puntung rokok itu terbakar
habis lagi sebatang terhisap

Tulisan aku lanjutkan dengan sajian yang bermenu kegelisahan
jari-jariku menari-nari diatas keyboard
bait demi bait mulai berlarian membentuk kalimat
Suara-suara drama yang bermain di laptop sebelah membantuku menelusuri gemerlapnya

Malam, berbisik bahwa aku lupa menafkahi perutku
aku baru sadar, ternyata hari ini aku egois
hanya otak aku yang kuselimuti dengan makanan-makanan ilmu

Perut pun memarahiku….( Asri_Ismail )

Posko KKN-PPL, Soppeng (27/2)

Gurindam-kan Materi Kuno

Rasanya aku selalu saja mengutuk kegelapan
Sementara mengabdi pada malam adalah pekerjaan keseharianku
begitu tololnya diri ini

Tadi pagi, ada empat kelas tempatku berbagi ilmu
enam jam aku bercuap-cuap dihadapan penghuni kelas itu
enam indra yang kumiliki sepertinya merasakan kelelahan

Gurindam…

materi itu terpaparkan, terdengarkan dan terpahami, mungkin saja.
keyakinanku buram pada pengabdianku hari ini
kejelasan senyum lebar mereka meronakan warna
dimana korelasi kalimat ini? Aku masih bertanya-tanya akan itu ha..ha..

Karya sastra melayu klasik
bersajak AA
berisi nasihat
terdiri atas dua baris/larik
baris pertama berupa sebab
baris kedua berisi akibat

Itu karakteristik gurindam, katanya..
lantas, buat apa saya menggurui pelajaran itu
ini bukan permintaan rekayasa kisah klasik

Pantun, talibun, syair, mantra adalah bagian sahabat-sahabat karya kuno ini
aku benci belajar dan mengajarkannya..
aku hanya butuh kebebasan
tanpa terikat syarat apapun

ya..sudahlah…(Asri_Ismail)

Posko KKN-PPL, Soppeng (27/2)
Baca!!!

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...