Showing posts with label 7days7letter. Show all posts
Showing posts with label 7days7letter. Show all posts

Sunday, 24 March 2013

Ayah, Maaf


Bagaimana kabarnya Pa’? semoga kesehatan dan rezeki selalu menyertai, Pa’ sudah hampir dua tahun, aku tak pernah melihat wajahmu begitu pula dengan wajah ibu. Aku tak tahu juga, kenapa tiba-tiba rasa rindu itu akhir-akhir ini muncul.Terakhir aku bersama bapa’ saat lebaran Idul Fitri dua tahun silam, aku masih ingat  kala itu bapa’ mengantar aku ke Makassar dengan mengendarai motor Thunder yang bapa’ belikan untuk saya waktu kelas 3 SMA dulu.

Ilustarasi
Hehehe..kalau mengingat waktu bapa’ menjenguk aku, pada saat itu aku tinggalkan bapa’ sendiri di kos, dari siang hingga tengah malam. Itu hanya karena aku lebih memilih rapat di organisasiku dibanding menemani bapa’, padahal aku tahu pasti bapa’ capek sekali usai perjalanan dari kampung ke Makassar. Tapi, bapa’ tak pernah marah, setiba di kamar kontrakannku bapak malah menanyakan apa aku sudah makan atau belum,?. Sedih rasanya, saat aku tahu ternyata sepanjang aku pergi, bapa’ hanya menyiram Indomie untuk makan siang dan malam bapa’ yang kebetulan masih ada beberapa bungkus sisa Indomie yang dulu bapa’ kirimkan untuk aku.

Bapa’, kini aku hanya bisa menikmati suara bapa’ lewat percakapan telpon. Setiap menelpon, bapa’ tak pernah jenuh mengabsen keadaanku. Menanyakan tentang kesehatan aku, tentang kuliah aku, kapan aku selesai, bagaimana kondisi keuangaku, bagaimana dengan motorku yang selalu rusak, semua hal-hal yang menyangkut tentang aku bapa’ tanyakan.

Bapa’ juga tak pernah sama sekali menolak setiap ada permintaanku, kalau aku minta dibelikan Hp baru, pasti bapa’ usahakan, terlebih kalau masalah pembayaran kuliah, bapa’ pasti lakukan apa saja untuk memenuhinya. Walau, kadang aku tahu, uang itu bapa’ pinjam dari tetangga bapa’ di perantauan. Bapa’ pintar sekali menyembunyikan kesedihannya kepadaku, lewat udara, suara bapak kedengaran begitu bahagia, mesti aku rasakan sendiri bapa’ mempertaruhkan nyawanya untuk menafkahi aku disini. Belum lagi, setiap bulan, bapa’ harus kirimkan aku uang dan sejumlah makanan untuk aku cicipi disini.

Ini tahun keempat aku kuliah, tapi kehidupan aku masih saja ditopang oleh bapa’, kadang aku malu, diusia aku sekarang ternyata aku belum jua bisa menghidupi diriku sendiri. Terlalu banyak sudah perjuangan dan pengorbanan bapa’ untuk aku. Entah, dengan cara apa aku membalasnya.

Aku kangen Pa’, aku rindu dengan belaian kasih sayang bapa’. Aku selalu ingat, kala bapa’ membanggakan aku dihadapan teman-teman bapa’, katanya aku ini anaknya pintar, bapa’ selalu memanggil aku “Bos”, bagaimana bapa’ kalau memujiku selalu bilang, aku semakin hari tambah keren. “Tambah gagah sedding Bosku,” begitu ucap bapa’ ketika menyapaku. Aku hanya senyum, tak pernah menanggapi itu.

Aku masih ingat, kala bapa’ begitu memimpikan aku untuk jadi seorang Polisi. Tapi, impian itu tidak kesampaian, karena Ibu sakit dan harus membiayai biaya obat Ibu. Begitupula, kala bapa dan ibu memilih membatalkan naik haji demi kuliah aku. .

Bapa’ sekarang aku KKN, sebentar lagi aku akan memakai baju kebesaranku untuk wisuda nanti, dan memasang toga di kepala hehehehe. Aku minta bapa’ hadir ya, kita foto bersama, dan turut merasakan kebahagianku, dan biar bapa’ bisa tahu, bahwa ini bapa’ beli selama 4 tahun aku kuliah.

Oh ya Pa', aku masih ingat pernyataan bapa ke aku, bapa’ bilang baru mau berhenti merantau kalau aku sudah kerja dan bisa membiayai kehidupan Bapa dan Ibu. Itulah, ketakutan terbesar aku saat ini, aku masih pesimis apa bisa, selesai kuliah aku sudah bisa mendapatkan pekerjaan yang ideal untuk itu. Aku ragu sekali pa’, aku sudah bersumpah pada diriku, bahwa aku akan bahagiakan bapa’ dan Ibu nantinya.

Pa’ kalau pun nanti aku belum bisa cepat dapat pekerjaan yang memadai, bapa’ jangan marah ya.., tapi aku akan tetap berusaha kok, aku janji akan menjadi anak yang berbakti kepada bapa’, tak akan pernah aku kecewakan bapa’. Aku minta doa restu bapa’ dan Ibu ya…

Tuhan, jika Tuhan membenci aku, tolong jangan pernah membenci kedua orang tuaku. Mereka begitu berharga bagi aku, aku mohon jaga mereka di perantauannya. Bismillah. (Asri_Ismail)

Asri_Ismail
Makassar, kamar kos (24/3)
#7day7letter
Baca!!!

Saturday, 23 March 2013

Terima Kasih Untukmu, Waktu


22 Tahun sudah kau menemaniku, kau begitu setia bersamaku. Tak ada sedikitpun celah kau lewatkan. Segala aktivitas yang aku jalani kau selalu saja mendampingiku. Aku bahagia sekali, Tuhan telah menciptakanmu untuk kami. Meski wujudmu abstrak, namamu pun lahir dari sebuah kesepakatan belaka. Tapi, aku tak pernah peduli itu, yang jelas aku telah menikmatimu selama ini.

Kala aku sedih, kalau aku bahagia, namamu selalu aku sebut untuk tempatku mengeluh dan meminta. Kau bukanlah Tuhan yang mampu segalanya, kau hanyalah sebuah renungan dari apa yang telah aku lalui, dan kamu mampu membuatku berpikir tentang proyeksi masa depan aku dari apa yang engkau sediakan untuk aku gunakan sebaik-baiknya.

Fhoto : Int
Aku  akui, aku terlalu kejam buatmu. Tak pernah sama sekali aku mampu memanage mu dengan baik, aku sering membuatmu terbuang sia-sia. Mungkin saja, engkau menertawakan aku saat ini atau kau malah marah-marah sebab aku masih saja selalu terjebak dengan kebiasaan lamaku yang hanya mengisi mu dengan tidur dan mengkhayal, terlalu sedikit hal-hal positif yang aku mampu lakukan untukmu.

Maaf, aku ini memang bodoh, aku hanya tahu mengeluh, susah sekali bangkit jika mendapatkan masalah. Padahal aku tahu kau tak pernah letih menyiapkan aku tempat untuk memperbaikinya.

Hari ini, aku kembali tersadar betapa besar pengaruhmu terhadap jalannya roda kehidupan yang aku tempuh. Masalah besar yang akhir-akhir ini menggerogoti pikiranku, perlahan-lahan mulai terkikis akibat ulahmu. Ehm, rasanya otakku kembali terefresh, sedikit demi sedikit aku sudah tak lagi mengingat masa kala itu.

Sebenarnya, tulisan ini aku mau kirim buatmu namun aku bingung, kepada siapa aku menitipnya, padahal aku tahu kau berada pada setiap makhluk, bahkan kau menjadi milik seutuhnya mereka. Hanya saja aku masih ragu, apa mereka akan menyampaikan pesan aku ke kamu, tentang kegaguman aku, tentang rasa terima kasih aku untukmu. Sebab, masih banyak diantara mereka belum menyadari keberadaanmu.

Atau kah, aku perlu minta tolong sama Tuhan sebagai pemilik aslimu? tapi bisaka Tuhan menjawab apa yang aku minta. Bukannya, Tuhan telah menyerahkanmu untuk aku? tapi aku tak pernah melihatmu. Kau hanya ditandai dengan jarum jam yang tak pernah berhenti berdetak, tak pernah lelah berputar. Namun, tak pernah bicara apa tentang kemauan dari benda mati itu, ia hanya selalu menjadi pengingat tapi pernah bergerak untuk memberi intruksi kepadaku.

Ah..sekali lagi terima kasih untukmu, problem yang kau berikan seminggu terakhir ini aku mampu atasi. Untung masih ada kamu yang mampu berlalu kan sesuatu, hingga hanya menjadi sebagai kenangan atau sejarah. Sekarang aku yakin, semua masalah yang aku hadapi nantinya, akan hilang seiring berjalanmu setiap saat. Aku hanya butuh kamu, untuk melewati segala gempuran kehidupan yang bakal kuhadapi.

Untukmu waktu, aku berjanji tak akan lagi ku sia-siakan, tak akan lagi ada perbuatan menyepelekan. Saat ini, aku masih saja berharap, engkau kembali mengulang masa-masaku yang terbuang begitu saja, hingga akhirnya penyesalanku bisa tertutupi..
Terima kasih untukmu waktu, aku mohon tolong baca suratku ini..(Asri_Ismail)

Asri_Ismail
Makassar, Warkop Om Ben (23/3)
#7days7letters
Baca!!!

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...