Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Tuesday, 30 June 2015

Memeluk Sukses

Perlahan kamu mulai mengetuk pintu terdalam dari hatimu. Sedikit piluh, kau katakan kesuksesan tak ada yang melewati tol. Deretan cemas bersemayam. Coba mengikhlaskan dari apa yang pernah patah. Raut wajah sedikit kau poles agar tak teridentifikasi. Senyum. Datang dan kembali kau tata. Kau memang butuh jatuh, agar tahu rasanya sakit.

Cerita banyak orang, yang menyebut kesuksesan sebagai bertemunya harapan dengan kenyataan, menakar sejauh mana daya peluk yang kau tawarkan sebelum mengawali. Kadangkala, kau terlalu naif. Membiarkan kegagalan sebagai suatu takdir. Lalu berpaling.
Ilustrasi (Foto : Google Search)

Bukankah kau meyakini, bahwa diantara kegagalan-kegagalan yang ada, Tuhan menyiapkan satu keberhasilan. Selalu berikhtiar, sebab segala sesuatu itu bergantung niat. Bukan ajang coba-coba mengadu kompetensi. Ada yang bekerja di luar kendali. Saya katakan Tuhan sekali lagi.

Mari belajar perihal mengelola keikhlasan, bersikukuh dengan ego. Mematangkan kemampuan. Setelah bangkit. Meramu stimulus yang berkali-kali tak sempat disempurnakan. Memandang apa yang tersaji dalam etalase. Hindari ragu. Sekalipun ia kadang-kadang datang persis disaat kau lupa semangat.

Kita ini roda, berputar terus. Suatu masa dimana kemudahan selalu menghampiri. Segala doa begitu mudah terwujud. Dan fase ini berbalik arah, uji ketahanan mental terasa begitu berat. Kau mesti bangkit atas keterpurukan rasa. Dan itu susah. Tapi kita bukan kayu korek yang sekali pakai, kita bisa memanggil semangat kapanpun kita butuh. Harus kau yakini, bahwa dibalik itu "tepuk tangan" akan mendatangi.


Kondisi seperti tugas kita adalah melewati. Sebab di luar sana akan banyak rupa-rupa jalan yang kita jumpai. Tentu dibutuhkan, sedikit pengalaman dan kematangan. Bergegaslah. Janji Tuhan, tak ada yang sia-sia.

***Asri Ismail (30/6/2015)
Baca!!!

Friday, 23 January 2015

Kapan Sarjana? Tut..tut..Hilang

Saya pribadi menyakini, akan ada suatu masa pertanyaan yang sejatinya menyemangatkan itu akan hilang. Orang-orang yang hatinya sumpet, lelah, marah, atau apapun alibi yang diperbuat saat ditanya kapan sarjana? Akan haus pertanyaan itu. Orang-orang tersebut kelak sangat butuh ditanya-tanya mengenai penyelesaian studinya, namun sialnya, tak ada satupun yang berniat mengubrisnya lagi. Miris.

        Maksud saya, dalam beberapa kondisi realitas yang saya temui, saya melihat sejumlah teman-teman sekampus, merasa sangat jengkel ketika teman atau pun juniornya mencoba menimpalinya dengan sejumlah pertanyaan perihal waktu mereka memakai toga dan menyandang gelar akademik. “Tidak usahmi tanya-tanya itu deh, ini kan hidup saya, saya yang jalani, tidak usah pusing,” begitu cara mahasiswa tingkat “Dewa” ini menjawab. Jawaban itu sebenarnya tidak salah, tapi saya malah menyesalkan. Bukan apanya, semestinya kita (Mahasiswa Tingkat Akhir) menanggapi dengan positif. Bukan malah mencoba membela diri dan menyinggung si penanya. Takutnya, nanti mereka yang kerap bertanya akan dihinggapi sikap apatis, tidak lagi memperdulikan. Padahal, sebenarnya jika ditangkap baik-baik maksud mereka itu sangat mulia. Itu merupakan bentuk-bentuk keprihatinan atau kepedulian kepada kita. Janganlah kita menafsir-nafsirkan bahwa itu sebagai olok-olokan.
Ilustrasi (Gambar : Int)

    Sesungguhnya, kita yang sering dihinggapi pertanyaan “nyesek” seperti itu patut bersyukur, sebab ternyata masih banyak orang-orang di sekitar kita yang memikirkan nasib atau langkah kita selama ini. Setidaknya, bisa dijadikan motivasi untuk “bersegera” berangjak, meninggalkan status itu. Agar kiranya, ke depan, pertanyaan itu sirna, dan memunculkan pertanyaan baru lagi. Mungkin saja pertanyaannya, Kapan Nikah? Mau lanjut dimana?. Nah, itu kan sedikit membuat adem.

    Bayangkan saja, jika suatu saat nanti. Kita ini yang sedang semangat-semangatnya kerja tugas akhir, tapi tidak ada lagi orang-orang yang mau mendengarkan ocehan kita mengenai betapa ribetnya mengerjakan skripsi. Jangankan teman seangkatan, junior mungkin orang tua kita saja yang selama ini tak henti-hentinya menagih, juga sudah tidak mau tahu. Bukan kah itu sebuah masalah besar? Silakan pikirkan. Terlebih, saat sahabat-sahabat kita sudah satu persatu melambaikan tangan perpisahan. Mereka lebih duluan mencoba hal baru di luar sana. Sementara kita, masih saja setia berada di kampus. Itu tentu akan membuat kita semakin tersiksa.

    Bagi saya, menjelang sidang akhir ini, meski harus bertahan di kampus selama lima tahun lebih. Suatu hal yang paling saya banggakan dan saya syukuri. Sebab, hingga saat ini, tak henti-hentinya pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya maksud itu menghujani. Artinya, diantara sekian banyak kepedulian yang berdatangan selama ini bisa saya buktikan. Saya belum ditinggal “pergi” dari pertanyaan itu. Meski, saya sadari sedikit berkurang. Lalu, bagaimana dengan mereka yang selama ini acuh dan cuek, tidak mengolah pertanyaan-pertanyaan itu sebagai pelecut. Sekali lagi saya katakan, itu akan hilang bersamaan dengan kebosanan orang-orang terdekat kita.

    Semoga saja kita tidak termasuk sebagai orang-orang yang merugi. Sudah terlambat selesai, ditambah lagi tidak ada lagi orang yang memperhatikan kita.

Asri Ismail (24/1/15)
Baca!!!

Friday, 12 December 2014

Namakan Saja Pengalaman, Cukup

Bukan prihal cepat atau tidaknya menyandang gelar sarjana, tolok ukur kesesuksesan seseorang bisa ditentukan. Begitupun Indeks Prestasi Komulatif (IPK), tinggi rendahnya sebuah nilai seseorang pun bukan menjadi barometer keberhasilannya kelak.
Ini kalimat yang sering saya dengar dan diperbincangkan dalam kampus. Bahkan, bagi sebagian orang beranggapan, pembeda antara mahasiswa yang satu dengan yang lainnya adalah proses yang dilewati selama di bangku kuliah, maksud saya pengalaman yang didapat. Entah itu hanya apologi atau sebuah realitas. 

Diskusi malam. Himpunan Mahasiswa Bahasa di Kampus
sedang mendiskusi kegiatan (Foto; Dokumen pribadi)
Berdasarkan perbincangan saya dengan beberapa orang yang menurut hemat saya, orang-orang ini sudah masuk dalam golongan sukses juga kecenduranganya membenarkan hal itu. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengejar narasumber nasional untuk saya masukkan di koran kampus. Saya diminta untuk mewancarai Anies Baswedan (baca; Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah-sekarang), kebetulan beliau kala itu berada di Makassar, sehingga aksesnya relatif mudah ditemui. Meski harus menunggu berjam-jam, tapi akhirnya harapan itu terwujud. Dalam wawancara tersebut, saya menyelipkan pertanyaan di luar topik bahan yang saya bawa. Saya meminta pandangan beliau mengenai mahasiswa yang lama kuliah. Spontan ia menjawab, baginya mahasiswa yang lama menempuh studi bukanlah masalah, asalkan mahasiswa tersebut memiliki kegiatan positif, tidak hanya sekadar lebih banyak berpikirnya tanpa aplikasi dan tidur. 

“Bagi saya pribadi, saya tidak ada masalah kalau mereka kuliah lama. Selama waktu yang mahasiswa pakai itu, digunakan untuk agenda-agenda positif. Ingat kata-kata saya ini, mungkin ada teman anda yang wisudawan terbaik tapi tidak pernah berorganisasi atau tidak memiliki kesibukan diluar yang membantu membentuk mental dan menambah wawasan berpikirnya, ia hanya akan mendapat tepuk tangan pada saat itu juga (baca:wisuda) tapi coba bandingkan 5 sampai 10 tahun kedepan dengan teman-teman anda yang menyiapkan ruang untuk belajar di luar bangku kuliah, kebanyakan diantara mereka jauh lebih berhasil,” Begitu tutur mantan Rektor Universitas Paramadina kepada saya.
Saya juga ingat, ini saya dapat dari salah satu pejabat di kampus tempat saya menimba ilmu, namanya Prof. Jasruddin. Katanya, IPK hanya mengantarkan kita pada pintu (maksudnya “Pintu” tempat kita, misalnya melamar kerja) selebihnya jika sudah berada dalam ruangan, maka yang terjadi adalah pertarungan pengalaman yang diperoleh selama ini.

Tak hanya itu, beberapa dari pengalaman selama jadi wartawan kampus dan melalui beberapa organisasi lainnya, ketika bertemu dengan sejumlah orang hebat ini menurut subjektifitas saya. Tak sedikit diantara mereka, menyarankan untuk betul-betul memanfaatkan waktu selama kuliah. Katanya, di S1-lah mahasiswa diharapkan mencari sebanyak-banyaknya ilmu. Bahkan, hampir semua dosen dan pejabat yang ada kampus nyaris tidak ada yang tidak pernah mencicipi yang namanya organisasi. Minimal itu menjadi indikasi, begitu penting organisasi bagi mahasiswa. Saya pribadi merasakan hal demikian. 

Tulisan diatas hanya sekadar kilas balik dari apa yang menjadi cerita saya hingga hari ini.Tidak dinafikkan bahwa, berkerumul dengan orang-orang hebat, akan terciprak juga ilmunya.Pada sebuah artikel yang pernah saya baca, penulis menafsirkan bahwa pengalaman bukanlah bertemunya antara intelektual dengan realitas tapi lebih pada pencelupan eksitensi kita di dalam kondisi sosial. Artinya apa, pengalaman lebih menekankan bagaimana seseorang hadir di tengah-tengah kemajemukan dan peka atas realitas sosial yang terjadi.

Sekali lagi saya katakan, ini bukan sebuah apologi atau bentuk pemaafan dari apa yang menimpa saya. Ini hanya sekadar bahan sharing bagi siapa saja yang menilainya sebagai suatu ilmu. Karena saya juga tercederai, saya gagal pada wilayah manage waktu. Akhirnya, kuliah 5 tahun lebih adalah konsekuensi dari jalan yang saya ambil. 

Semoga saja, kita tidak menyianyiakan waktu untuk selalu gelisah....

***Asri Ismail (12/12/14)







Baca!!!

Wednesday, 10 December 2014

Kunang-kunang Kampus #3

Kami pun turun, di sebuah tempat. Bagiku, tempat ini tidak asing lagi. Kerap kali saya antar Nining dulu untuk menemui pelanggannya. Hotel berbintang itu berlantai 12, Nining menarik lenganku. "Ayo Gus, orang itu dari tadi menunggu," Nining berlari kecil menuju ruangan yang dimaksud, aku mengikut dari belakang. Terdengar suara pintu terbuka, aku melihat pria itu secara samar-samar sedang merapikan kasur. Sepertinya, aku pernah melihat dia sebelumnya.

"Ning, ada apa ini?" Begitu bergetar tubuhku melihat sosok lelaki itu. Nining, langsung masuk saja dan ia melempar senyum pada laki-laki itu. Saya tafsir umurnya diatas 50-an. "Ada apa Ayah," Tiba-tiba suara dari toilet memannggil laki-laki yang sedang bercuap-cuap bersama Nining. Aku masih berada di luar kamar, dengan penasaran untuk segera melihat wanita dalam toilet itu. Laki-laki berkumis itu tetap saja memegang erat tangan Nining, ia mengajak Nining duduk di bibir kasur. Aku memulai langkah untuk masuk ke kamar. "Masuk sini, Gus," Pria itu menyebut namaku. Aku masih saja berusaha mengingat kembali, siapa sebenarnya laki-laki itu...

Ilustrasi (Foto : Int)
"Aku  sudah tahu semua masalahmu Ning, ayahmu  cerita semua. Ia menyesal atas perbuatannya," Begitu tutur pria tambung yang  berjarak satu meter di depanku. Aku melihat tetesan air mata kembali berderai di pipi Nining, lalu lelaki itu berusaha mendamaikan hati Nining. Hujan mengguyur kota Makassar, malam itu.

"Ning, kamu dari tadi datang kesini. Maafkan, bunda tadi aku agak lama di kamar mandi, aku bersihkan dulu, kotor Ning (sambil tersenyum)," Terang perempuan berambut pendek itu
"Iya bunda, bunda sudah tahu masalah Nining kan bunda?" Nining menghapus sisa-sisa air matanya yang melekat di pipi.
"Aku sudah tahu semua Ning, kamu yang sabar yah..." Bunda mendekati Nining.

Lalu Nining meminta aku duduk di kursi dekat kasur. Di kamar itu hanya ada dua kursi terbuat dari kayu, satu buah tivi 42 inc dan satu buah kasur yang berukuran relatif besar. Dengan sperai warna putih. Sementara dinding kamar, terkesan elegan, dingin,dan sejuk sebab hampir disemua bagian dinding menggunakan batu marmer.

Lelaki paruh baya itu masih saja memandang ke arahku, aku sepertinya mulai mengingat dirinya. Yang jelas dalam benakku, orang ini sudah tidak asing lagi. Aku ingat gelang tangan yang ia pakai. Gelang hitam kilap pengikatnya. Dengan mode lingkaran. Ya... aku ingat. Belum sempat aku merefresh otak secara sempurna, sontak Nining mengagetkanku. Ia memukul punggungku, keras sekali.

"Ha....ayo..lagi mikir apa (ia tertawa terbahak-bahak), kaget ya Gus?" Tanyanya padaku.
"Ya jelas kagetlah, kamu itu kenapa sih, tiba-tiba senang gitu" Aku menjawab dengan sedikit nada tinggi.
"ya, sorry...sorry...sorry Gus (sambil mencibir pipiku), kamu ingat mereka berdua? (Laki-laki bersama wanita yang kutafsir pasangan suami istri itu menatapku, pandanganya begitu teduh), dia ini Om aku, Bunda Ratih itu istrinya. Ingat gak Gus? (Nining mendesakku, untuk segera menjawab)" Nining mendorong-dorong bahuku.
"Iya, ya..aku ingat" jawabku singkat. Aku hanya pura-pura, padahal sosok kedua orang masih samar-samar.

Setelah semua dicerita panjang lebar, Aku baru ingat. Ternyata, lelaki bertubuh besar itu adalah Om Nining yang tinggal di Jakarta. Ia adalah adik kandung Pak Bambang, ayah Nining. Namanya Burhan. Terakhir kali ketemu,  dua tahun lalu. Ketika liburan, kala itu saya bersama Nining baru sekitar enam bulan jadi mahasiswa. Kalau tidak salah ingat, empat hari kami bermalam di Ibu Kota. Pak Burhan dan Ibu Ratih lah yang memperkenalkan saya kota metropolitan itu.

Kalau diflashback sepertinya, banyak sekali perubahan yang nampak pada Om Burhan, terumatama pustur tubuhnya yang makin besar. Rambutnya yang sudah banyak memutih, lucunya ia baru saja potong kumisnya. Begitu juga denga Tante Ratih, pertama kali aku melihatnya tidak pakai jilbab. Dulu, waktu di Jakarta, setiap aku ketemu jilbabnya tidak pernah lepas.

Sejak berumur 5 tahun, Nining menghabiskan masa kecil hingga dewasa bersama dengan kedua orang yang ada bersama kami ini. Hal dikarenakan Ibu dan Ayah Nining bercerai, makanya Nining dititip sama Om Burhan. Kebetulan Om Burhan dan Tante Ratih ditakdirkan tidak bisa memiliki keturunan. Menurut penuturan lelaki yang saat ini menjabat sebagai Direksi Perusahaan  yang bergerak dibidang ekspor barang dan jasa tersebut, Ibu Ratih mandul. Bagi, mereka cinta adalah titipin terindah Tuhan untuknya, selebihnya adalah hadiah. Dan hadiah untuk meminang anak belum diberikan.

Sebelumnya, menurut cerita Nining, Om Burhan tinggal di daerah pelosok yang ada di Sulawesi Selatan, namun karena tekadnya yang besar, ia mencoba peruntungan di Jakarta. Sejak itu pula, Nining tidak satu atap lagi dengan mereka. Nining memilih melanjutkan kuliah di Makassar. Nining sudah menganggap kedua orang itu seperti orang tua kandungnya sendiri. Mereka begitu saling menyayangi. Sejak sekolah hingga kuliah, Kedua orang itulah yang membiayai hidup Nining. Dan sejak itupula, karena kedua orang tuanya semua di Jawa, aku selalu saja mengejek Nining gadis Jawa yang nyasar.

Kedatangan mereka berdua di Makassar untuk menjenguk Nining, memastikan keadaan Nining. Soalnya, seusai kejadian bersama Ayahnya. Pak Bambang datang memberitahukan kepada Om Burhan mengenai perbuatan kejinya. Om Burhan tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan nasehat. Om Burhan menilai ini hanya cobaan Tuhan.

Selain datang menjenguk Nining, Om Burhan bersama istrinya juga menyempatkan diri untuk pergi keliling Kota Daeng, begitu sebutan para penghuni kota ini. Satu minggu mereka di Makassar, lalu terbang lagi ke Jakarta. Sebab, katanya banyak pekerjaan menumpuk yang ditinggalkan disana.

*****

Setahun sudah Nining meninggalkan dunia hitam yang pernah digeluti. Kini ia tercatat sebagai mahasiswa semester VII, dalam hitungan normal tinggal selangkah lagi Nining menyandang gelar sarjana, begitupun saya. Tercatat sudah banyak laki-laki yang mencoba mendekati Nining, terakhir dengan kakak senior yang entah sudah berapa kali ia melewati semester VIII tapi belum juga lulus-lulus.  Tak satupun yang srek di hati Nining. Ia lebih memilih sendiri dulu, kadang ia bercanda kepadaku, katanya masih ada sisa-sisa luka padanya. selalu begitu jawabannya ketika saya tanya tentang kesendiriannya. 

Pada kuncup bunga yang ditinggal senja, pada asa yang meminta langit jingga. Lalu, ribuan kumbang menyalahkan hujan. Kisah Nining, berhenti. Lembaran-lembaran baru sudah mulai ia jejaki. Tak pernah lagi ia absen dalam kuliah. Ia juga mulai masuk di beberapa organisasi dan komunitas yang ada di Makassar. Tak pernah lagi saya melihat dirinya murung, senyumnya tak pernah lepas ketika bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. 

Tak ada yang mampu membantah  kalau Nining memang gadis yang cantik. Rambut panjang yang lurus, tinggi yang ideal, kalau tidak salah Nining tingginya 1, 71 meter . Postur tubuh yang sangat seksi. Perihal wajah, jangan ditanya ia sebelas duabelas dengan Lyra Virna. Begitu pun kulitnya yang putih mulus. Hingga pria manapun yang sempat memandang Nining, pasti jatuh hati padanya. 

Dalam beberapa komunitas dan organisasi yang diikuti, tak jarang Nining menjadi salah satu alternatif jika mereka membutuhkan anggaran untuk kegiatan. Nining paling diandalkan apabila untuk persoalan menembus anggaran. Kata beberapa teman mereka, Nining pintar sekali mengambil hati para bos yang ditemuinya. Salah satu alasan yang paling utama, wajah Nining yang menarik. 

Suatu malam, selepas Magrib,  Handphone milik Nining berdering. Pak Direk memanggil, begitu tulisan yang saya amati di HP Nining. Nining juga kaget, baru kali ini ada telpon dari lelaki itu. Padahal kegiatan yang dibantu langsung oleh beliau sudah empat bulan berlalu. Tanpa pikir panjang, Nining answers saja panggilan itu. "Hallo..Pak, ada apa ini" Begitu cara Nining menjawab dengan basa-basi. Tampak gerakan Nining, menyuruh aku diam. Mungkin dia takut kalau suaraku kedengaran. "Bagaimana kabarmu Ning, lama ya tidak ke kantor. Aku kangen (sambil cengingisan)" suara dibalik telepon itu. "Baik pak, saya juga kangen, aku sibuk urus kuliah pak" Nining melepas switer yang masih di pakainya.

Perbincangan mereka banyak sekali, aku tidak mampu menangkap secara jelas. Sepintas saya dengar, Pak Direk seperti itu sapaan Nining kepada pria yang sedang komat-komit dengannya. Mengajak Nining untuk makan malam di sebuah Rumah Makan (RM) yang tak jauh dari kantor Walikota.

"Gus, aku janjian sama Pak Direk, kamu temani aku lagi ya..plisss," Nining memohon lagi, ini untuk kesekian kalinya aku temani dia. "Kamu tidak seperti yang dulu lagi kan? maksud saya tidak menjual diri. Sorry kalau saya agak kasar" Aku mencoba lagi mengorek sedalam mungkin. Aku hanya takut Nining kembali lagi pada tingkahnya seperti dulu. "Tidak Gus, percaya aku. Pak Direk tawarkan saya pekerjaan, itu aja" Nining lagi-lagi berusaha meyakinkanku.

Hari H telah tiba, RM Nikmat menjadi pilihan Nining untuk ketemu, Disana saya melihat seorang pria sudah menunggu. Dengan style menawan, kombinasi baju batik dan celana kain seperti pejabat-pejabat lainnya. Pria itu menyapa mesra kami. Kami pun memesan beberapa makanan, Nining hanya menyuruh pelayan memberinya Jus Alpukat. Sepertinya Nining lagi tidak lapar, begitupun dengan Pak Direk, ia hanya memesan kopi dan beberapa gorengan. Beda dengan aku, yang sedari tadi perut aku kosong

Sekira, sudah tiga jam kami bercup-cuap. Satu hal yang membuat aku kaget, Pak Direk malah dari tadi bukan memandang Nining, ia memandang terus ke arah aku. Aku malah jadi gugup. Tak pernah aku bicara banyak, kecuali kalau Nining meminta aku bicara. "Gus, masih single" tanya Pak Direk singkat kepadaku.

Pak Direk ternyata bernama Suparno, ia asli Jawa Tengah. Saya taksir seumuran dengan Ayah Nining, 52 tahun. "Aku minta nomor kamu ya, (sambil memegang-megang tanganku)" Aku kasih saja, takutnya dianggap tidak menghargai dia. Pikiranku pun kemana-kemana, laki-laki ini sepertinya sakit. Bukannya Nining jauh lebih cantik dibanding aku. Lagian, aku agak tomboi. Jarang sekali saya memakai rok seperti gadis-gadis lainnya.

"Tapi dari dulu saya sebenarnya, memang menyukai lelaki seumuran beliau" gumamku dalam hati. Sekali pun namaku mirip laki-laki, tapi beberapa teman-teman cowok di kampus menilai aku lumayan cantik. Oh ya, nama asli aku Gusnani. Cuma beberapa kawan dan sahabat saya selalu memanggil saya Gusnan atau Gus saja. Ceritanya, waktu kecil, orang tua aku saat dalam kandungan mengira aku berjenis kelamin laki-laki. Jadi sebelum dilahirkan, aku sudah disiapkan nama, ya Gusnan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, aku ditakdirkan sebagai perempuan. Daripada repot-repot, Ayahku hanya menambahkan huraf i setelah nama Gusnan, jadilah aku Gusnani. Mungkin gara-gara itu juga, gaya berpakaian aku seperti laki-laki.

Rambutku yang panjang dan hitam ini jugalah yang membuat Om Burhan diam-diam menyukai aku. Teringat saat dia berada di Makassar, beberapa kali memeluk aku dari belakang. Itu ketika Ibu Ratih lagi keluar belanja bersama Nining. Sat hal yang aku andalkan dari tubuh saya, saya memiliki tonjolan dada yang diatas rata-rata.

Bersambung......


***Asri Ismail (10/11/14) 





















Baca!!!

Saturday, 6 December 2014

“Menggulung” Malas

Sebelum saya memulai tulisan ini. Secangkir kopi Cappucino bersama dengan beberapa batang rokok sudah saya siapkan. Kebiasaan saya memang seperti itu. Saya sama sekali tidak bisa menulis panjang, jika kedua barang konsumsi tadi tidak ada di samping. Diantara jeda jari mengetik, saya menyempatkan mengisap rokok sambil menyeduh kopi. Rasanya, semangat menulis saya tidak ada habisnya. Semacam, obat pelecut begitu. 




Ilustrasi (Foto : Int
Tapi ya sudahlah, hari ini saya ingin menulis, tentang penyakit saya. Dan mungkin, hampir setiap yang menamakan dirinya manusia, pernah terjangkit. Bahayanya bisa menular. Namanya malas.

Dalam beberapa pekan terakhir ini, tugas paling menyita waktu saya selama saya mencicipi namanya kuliah yakni Skripsi. Setelah saya melewati ujian Proposal kemarin, Oktober lalu. Rasa-rasanya mulai jenuh. Semangat saya langsung hilang. Bukan apanya, waktu itu saya memburu jadwal wisuda bulan Desember. Namun mau apalagi, tiba-tiba saja, jadwal dipercepat ke bulan November. Berlari sekencang apapun, saya tidak mungkin dapat memakai toga. Pikirku saat itu. 

Perlu diketahui sistem administrasi di jurusan saya terbilang ribet. Untuk happy ending, saya mesti melewati tiga tahap, pertama proposal. Alhamdulilah, tahap itu saya lewati kurang lebih satu bulan bekerja. Setelah proposal, kita mesti melangkah ke ujian hasil. Hingga sekarang, saya masih dalam proses menuju titik itu.  Dan terkahir ujian meja. Kata beberapa teman saya, jarak waktu antara hasil dan meja, hanya berkisar satu minggu. Belum lagi persoalan menunggu penguji, pembimbing dan perihal administrasi lainnya. 

Dari pada saya memarahi diri sendiri, saya mencoba menenangkan pikiran saja. Ya mau apalagi, saya harus kembali berjalan terus, hingga bulan April. Jadwal wisuda berikutnya. Saya sudah meyakinkan diri, bahwa tidak ada lagi alasan tidak mengakhiri status saya sebagai mahasiswa starata satu (S1) di tahun 2015 nanti. Tepatnya April ya. Lagian, penelitian saya tidak terlalu banyak makan waktu, berbeda dengan penelitian tindakan kelas atau eksprimen, yang memerlukan waktu minimal 2 bulan meneliti. Saya memilih penelitian kualitatif, sepertinya relatif memudahkan. 

Judulnya “Analisis Wacana Buku Sekolah Eektronik SMP Kelas VII dalam Perspektif Teks Gender” cukup mudahkan. Saya hanya butuh “berpacaran” dengan Sara Mills, wanita yang ahli dalam memainkan isu gender. He..he..he..

Oh ya, saya kan tadi janjinya bercerita mengenai malas ya. Apa yang saya tuturkan diatas, sebenarnya adalah akar masalah kenapa lagi-lagi penyakit itu menyerang saya. Saya, sepertinya putus asa. Terlalu banyak orang yang berharap dan akhirnya kecewa sebab ternyata bulan Desember lagi-lagi berlalu begitu saja. Sakitnya tuh disini...lirik lagu Cita-Citata.

Bagi saya malas, seperti penyakit yang kapan saja bisa menyerang. Jika, ada orang-orang yang menampung masalahnya berlarut-larut, pada saat itu pula penyakit malas bersarang. 

Berdasarkan empirik saya, entah sudah berapa puluh kali saya mengalami ini. Hanya saja, saya pribadi menafsirkan malas itu bukan berarti bermurung dalam kamar. Tapi, ada hal prioritas yang saya tanggalkan, dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang lain.Lalu merasa nyaman dengan kondisi itu. Beberapa kali saya mencoba melawan rasa itu, namun sialnya saya beberapa kali juga terjatuh dalam dekapan malas. 

Anehnya, ketika saya sedang asyik-asyiknya menikmati kemalasan saya dengan aktivitas lain. Selalu teringat, seperti ada rasa penyesalan. Ya, seperti Skripsi ini, jika saya pikir-pikir jika saja aku tidak memaksakan diri untuk mengerjakan hingga selesai. Entah, berapa kali lagi orang tua, memberi kultum kepada saya. Dan satu hal yang penting, aku tidak mau lagi bersembunyi terus. Maksud saya, bersembunyi dari pertanyaan-pertanyaan yang menohok. Kadang ada yang bertanya, “Kapan wisuda, Asri? Masa kuliah lama sekali,” selalu saya timpali dengan argumen lain. “Ada pertanyaan lain selain itu?,” tutur saya sambil menundukkan kepala.

Seyogyanya, bagi saya malas itu memang perlu ditendang jauh-jauh. Sebab, kapan dibiarkan. Dia akan berkembangbiak. Dan manusia yang digerogoti malas, akan bertambah penyakitnya. Manusia itukan akan semakin apatis dengan teguran orang-orang disekitarnya. Tak peduli apapun orang bilang terkait dirinya. Dan itu bahaya, karena penyesalannya bakal berlarut-larut, kata Bosku begitu. 

Mulai hari ini, tak ada lagi kata malas. Saya, tidak boleh berleha-leha terlalu lama. Saya harus menuntaskan janji. Ini ikhtiar saya, tapi kan menilai nilai seseorang itu dilihat dari tindakan di lapangan. Tolong, tegur saya jika mencoba lagi lari...Mari bersama-sama menggulung malas. (*)

***Asri Ismail (7/12/14)








Baca!!!

Friday, 3 January 2014

Himaprodi PBSI ; Sepenggal Cerita

Tepat di hari lahirmu, segalanya telah usai tentang aku, mereka, dan kita. Ada banyak cerita yang ingin kutuangkan melalui perenungan malam yang sebentar lagi selesai. Kisahnya unik namun menggugah rasa, ketika lapak-lapak itu telah rapuh bermuncul wajah-wajah sinis mencaci maki orang yang mendiami-mu. Mungkin saja, mereka sedang menikmati sayur asing tapi tak bergaram ataukah mata mereka sedang menyaksikan sebuah pertunjukan  tanpa adegan. Semuanya serba membosankan.
Berdoa...bersama dewan senior

Gejala-gejala itu aku temukan berhamburan, kisah ini seolah menjadi isu sedap untuk dinikmati bersama. Mereka tertawa, berbisik sana sini dan melempar kesalahan untuk penghuni-mu. Bahkan mereka tak mau tahu, apa yang kami perbuat untuk-mu. Karena bagi mereka kebenaran ada pada dirinya.

Sepertinya, mereka tak bernoda, patronnya satu, kehebatan mereka dulu. Sehingga menilai kami ini hanyalah anak “ingusan” yang taunya hanya menghuni, bukan memperbaiki atau menjaga. akibatnya jawabannya satu, kecewaan tanpa menelusuri bagaimana kami berproses untuk semua itu. 

Anehnya, bahkan segelintir orang yang notabene-nya tak pernah mendalami-mu malah ikut bercuap-cuap. Seakan dirinya adalah kemulian akan petaka yang digiring. Aku malah berpikir, jangan-jangan orang itu tak tahu, bahwa dirinya adalah luka yang sebentar lagi membunuh tuannya.

Tapi sudahlah, ini hanya coretan usang. Bagiku, kemerdekaan sesungguhnya ketika mampu melewati fase ini, dan mempertahankan nama-mu berkibar di tengah badai yang setia menghantam.  

Tiga tahun bersama-mu adalah waktu yang relatif panjang. Tak mudah bagiku bersama kawan-kawan menjajaki. Berbagai ujian akan kesetian silih berganti menghampiri. Tepat di tanggal 24 Februari 2011, amanah itu berpindah kepada kami. Berulang kali, kami kehilangan arah. Mungkin karena daya tarikmu yang begitu kuat, kami lalu kembali “pulang” bermesraan denganmu.

Doa. Pembacaan doa sebelum peniupan lilin, Tanjung Bayang, (27/12)
Hal yang paling sulit, saat-saat dirimu diasingkan. Saat dimana nama-mu dihapuskan bersama dengan lembaga kemahasiswaan lainnya. Namun, pada momen itu pulalah aku mengetahui segalanya. Bahwa, ada namanya pengkhianatan dibalik simpul kesetiaan yang kita bangun. Satu persatu mereka melambaikan tangan perpisahan.

Padahal kala itu usiamu baru 10 bulan bersama kami, ketika pucuk tanggung jawab menjadi kewajiban, semuanya sirna bersama asa yang pernah kami ramu untuk membesarkanmu. Mulut para birokrat fakultas meluluhlantahkan kami. Telunjuknya mengarahkan ke jurang, kami seperti tak berdaya dengan ancaman-ancaman kejinya.

Semenjak itu, kami hanya mencoba berjalan pelan-pelan dan sembunyi-sembunyi menyuapi-mu. Kadang kala, namamu tidak kami pakai ketika melakukan kegiatan. Tapi semua tahu, orang-orang yang bekerja itu adalah manusia-manusia yang lahir dari rahimmu. Bahkan, para pekerjaannya pun sama, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tapi, saya sadari tugas saya bukan untuk mengeluhkan problematika atau melolongkan masalah, namun bagaimana saya memberi semangat kepada saudara seperjuangan saya untuk selalu menebarkan harapan.
Kami memilih tutup telinga untuk mereka yang kerap mengebiri kami. Sebab, masih banyak senior-senior atau pendahulu kami yang dengan setia menemani kami untuk bersama menggulung pesimis, dan membantu kami melawan kerasnya ombak.

Mereka hadir menemani kami dalam kondisi apapun. Saya percaya, mereka tahu betul bagaimana menghidupi-mu di tengah tikaman badai yang tak henti menghantam. Alasannya satu, mereka pernah mengukir kisah dibalik jungkir baliknya perjuangan. Ada sumbangan air mata untuk mengkokohkan-mu. Tawa, adalah akhir dari perantauan yang panjang.

Kini, namamu masih berdiri tegak diatas tiang yang terbangun atas cucuran keringat oleh orang-orang yang tak henti memujamu dan membanggakanmu. Walau, banyak tak mengakui keberadaanmu. Tepat, tanggal 27 Desember 2014 kemarin, kau genap berusia 10 tahun. Tak ada yang istimewah di hari paling berhargamu itu, hari dimana kau memulai menghempaskan nafas pendidikan dan kebahasaanmu untuk UNM terkhusus FBS.

Hanya

Pergantian. Penyerahan secara simbolik kepada pengurus baru

jamuan,rindu, cinta dan semangat yang coba kami pulihkan untuk merawatmu. Dan sejumlah generasi-generasi baru yang akan menjadi tuan rumah menganggatikan kami ini yang mungkin sudah usang, sekalipun sulit rasanya untuk melepaskanmu. Akhirnya, terima kasih kepada orang-orang yang telah setia menemani kami hingga detik ini. Tuhan akan membalas segalanya atas kebaikan yang selalu kalian tuangkan pada kami. SELAMAT MILAD KE-10 HIMAPRODI PBSI FBS UNM. Salam pendidikan……

Kutitipkan senyum rindu untuk kalian pejuang baru…..

Asri Ismail
Warkop Om Ben, 4 Januari 2014


Baca!!!

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...