Friday, 3 January 2014

Himaprodi PBSI ; Sepenggal Cerita

Tepat di hari lahirmu, segalanya telah usai tentang aku, mereka, dan kita. Ada banyak cerita yang ingin kutuangkan melalui perenungan malam yang sebentar lagi selesai. Kisahnya unik namun menggugah rasa, ketika lapak-lapak itu telah rapuh bermuncul wajah-wajah sinis mencaci maki orang yang mendiami-mu. Mungkin saja, mereka sedang menikmati sayur asing tapi tak bergaram ataukah mata mereka sedang menyaksikan sebuah pertunjukan  tanpa adegan. Semuanya serba membosankan.
Berdoa...bersama dewan senior

Gejala-gejala itu aku temukan berhamburan, kisah ini seolah menjadi isu sedap untuk dinikmati bersama. Mereka tertawa, berbisik sana sini dan melempar kesalahan untuk penghuni-mu. Bahkan mereka tak mau tahu, apa yang kami perbuat untuk-mu. Karena bagi mereka kebenaran ada pada dirinya.

Sepertinya, mereka tak bernoda, patronnya satu, kehebatan mereka dulu. Sehingga menilai kami ini hanyalah anak “ingusan” yang taunya hanya menghuni, bukan memperbaiki atau menjaga. akibatnya jawabannya satu, kecewaan tanpa menelusuri bagaimana kami berproses untuk semua itu. 

Anehnya, bahkan segelintir orang yang notabene-nya tak pernah mendalami-mu malah ikut bercuap-cuap. Seakan dirinya adalah kemulian akan petaka yang digiring. Aku malah berpikir, jangan-jangan orang itu tak tahu, bahwa dirinya adalah luka yang sebentar lagi membunuh tuannya.

Tapi sudahlah, ini hanya coretan usang. Bagiku, kemerdekaan sesungguhnya ketika mampu melewati fase ini, dan mempertahankan nama-mu berkibar di tengah badai yang setia menghantam.  

Tiga tahun bersama-mu adalah waktu yang relatif panjang. Tak mudah bagiku bersama kawan-kawan menjajaki. Berbagai ujian akan kesetian silih berganti menghampiri. Tepat di tanggal 24 Februari 2011, amanah itu berpindah kepada kami. Berulang kali, kami kehilangan arah. Mungkin karena daya tarikmu yang begitu kuat, kami lalu kembali “pulang” bermesraan denganmu.

Doa. Pembacaan doa sebelum peniupan lilin, Tanjung Bayang, (27/12)
Hal yang paling sulit, saat-saat dirimu diasingkan. Saat dimana nama-mu dihapuskan bersama dengan lembaga kemahasiswaan lainnya. Namun, pada momen itu pulalah aku mengetahui segalanya. Bahwa, ada namanya pengkhianatan dibalik simpul kesetiaan yang kita bangun. Satu persatu mereka melambaikan tangan perpisahan.

Padahal kala itu usiamu baru 10 bulan bersama kami, ketika pucuk tanggung jawab menjadi kewajiban, semuanya sirna bersama asa yang pernah kami ramu untuk membesarkanmu. Mulut para birokrat fakultas meluluhlantahkan kami. Telunjuknya mengarahkan ke jurang, kami seperti tak berdaya dengan ancaman-ancaman kejinya.

Semenjak itu, kami hanya mencoba berjalan pelan-pelan dan sembunyi-sembunyi menyuapi-mu. Kadang kala, namamu tidak kami pakai ketika melakukan kegiatan. Tapi semua tahu, orang-orang yang bekerja itu adalah manusia-manusia yang lahir dari rahimmu. Bahkan, para pekerjaannya pun sama, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tapi, saya sadari tugas saya bukan untuk mengeluhkan problematika atau melolongkan masalah, namun bagaimana saya memberi semangat kepada saudara seperjuangan saya untuk selalu menebarkan harapan.
Kami memilih tutup telinga untuk mereka yang kerap mengebiri kami. Sebab, masih banyak senior-senior atau pendahulu kami yang dengan setia menemani kami untuk bersama menggulung pesimis, dan membantu kami melawan kerasnya ombak.

Mereka hadir menemani kami dalam kondisi apapun. Saya percaya, mereka tahu betul bagaimana menghidupi-mu di tengah tikaman badai yang tak henti menghantam. Alasannya satu, mereka pernah mengukir kisah dibalik jungkir baliknya perjuangan. Ada sumbangan air mata untuk mengkokohkan-mu. Tawa, adalah akhir dari perantauan yang panjang.

Kini, namamu masih berdiri tegak diatas tiang yang terbangun atas cucuran keringat oleh orang-orang yang tak henti memujamu dan membanggakanmu. Walau, banyak tak mengakui keberadaanmu. Tepat, tanggal 27 Desember 2014 kemarin, kau genap berusia 10 tahun. Tak ada yang istimewah di hari paling berhargamu itu, hari dimana kau memulai menghempaskan nafas pendidikan dan kebahasaanmu untuk UNM terkhusus FBS.

Hanya

Pergantian. Penyerahan secara simbolik kepada pengurus baru

jamuan,rindu, cinta dan semangat yang coba kami pulihkan untuk merawatmu. Dan sejumlah generasi-generasi baru yang akan menjadi tuan rumah menganggatikan kami ini yang mungkin sudah usang, sekalipun sulit rasanya untuk melepaskanmu. Akhirnya, terima kasih kepada orang-orang yang telah setia menemani kami hingga detik ini. Tuhan akan membalas segalanya atas kebaikan yang selalu kalian tuangkan pada kami. SELAMAT MILAD KE-10 HIMAPRODI PBSI FBS UNM. Salam pendidikan……

Kutitipkan senyum rindu untuk kalian pejuang baru…..

Asri Ismail
Warkop Om Ben, 4 Januari 2014



Comments
0 Comments

No comments:

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...