Saturday, 23 March 2013

Terima Kasih Untukmu, Waktu


22 Tahun sudah kau menemaniku, kau begitu setia bersamaku. Tak ada sedikitpun celah kau lewatkan. Segala aktivitas yang aku jalani kau selalu saja mendampingiku. Aku bahagia sekali, Tuhan telah menciptakanmu untuk kami. Meski wujudmu abstrak, namamu pun lahir dari sebuah kesepakatan belaka. Tapi, aku tak pernah peduli itu, yang jelas aku telah menikmatimu selama ini.

Kala aku sedih, kalau aku bahagia, namamu selalu aku sebut untuk tempatku mengeluh dan meminta. Kau bukanlah Tuhan yang mampu segalanya, kau hanyalah sebuah renungan dari apa yang telah aku lalui, dan kamu mampu membuatku berpikir tentang proyeksi masa depan aku dari apa yang engkau sediakan untuk aku gunakan sebaik-baiknya.

Fhoto : Int
Aku  akui, aku terlalu kejam buatmu. Tak pernah sama sekali aku mampu memanage mu dengan baik, aku sering membuatmu terbuang sia-sia. Mungkin saja, engkau menertawakan aku saat ini atau kau malah marah-marah sebab aku masih saja selalu terjebak dengan kebiasaan lamaku yang hanya mengisi mu dengan tidur dan mengkhayal, terlalu sedikit hal-hal positif yang aku mampu lakukan untukmu.

Maaf, aku ini memang bodoh, aku hanya tahu mengeluh, susah sekali bangkit jika mendapatkan masalah. Padahal aku tahu kau tak pernah letih menyiapkan aku tempat untuk memperbaikinya.

Hari ini, aku kembali tersadar betapa besar pengaruhmu terhadap jalannya roda kehidupan yang aku tempuh. Masalah besar yang akhir-akhir ini menggerogoti pikiranku, perlahan-lahan mulai terkikis akibat ulahmu. Ehm, rasanya otakku kembali terefresh, sedikit demi sedikit aku sudah tak lagi mengingat masa kala itu.

Sebenarnya, tulisan ini aku mau kirim buatmu namun aku bingung, kepada siapa aku menitipnya, padahal aku tahu kau berada pada setiap makhluk, bahkan kau menjadi milik seutuhnya mereka. Hanya saja aku masih ragu, apa mereka akan menyampaikan pesan aku ke kamu, tentang kegaguman aku, tentang rasa terima kasih aku untukmu. Sebab, masih banyak diantara mereka belum menyadari keberadaanmu.

Atau kah, aku perlu minta tolong sama Tuhan sebagai pemilik aslimu? tapi bisaka Tuhan menjawab apa yang aku minta. Bukannya, Tuhan telah menyerahkanmu untuk aku? tapi aku tak pernah melihatmu. Kau hanya ditandai dengan jarum jam yang tak pernah berhenti berdetak, tak pernah lelah berputar. Namun, tak pernah bicara apa tentang kemauan dari benda mati itu, ia hanya selalu menjadi pengingat tapi pernah bergerak untuk memberi intruksi kepadaku.

Ah..sekali lagi terima kasih untukmu, problem yang kau berikan seminggu terakhir ini aku mampu atasi. Untung masih ada kamu yang mampu berlalu kan sesuatu, hingga hanya menjadi sebagai kenangan atau sejarah. Sekarang aku yakin, semua masalah yang aku hadapi nantinya, akan hilang seiring berjalanmu setiap saat. Aku hanya butuh kamu, untuk melewati segala gempuran kehidupan yang bakal kuhadapi.

Untukmu waktu, aku berjanji tak akan lagi ku sia-siakan, tak akan lagi ada perbuatan menyepelekan. Saat ini, aku masih saja berharap, engkau kembali mengulang masa-masaku yang terbuang begitu saja, hingga akhirnya penyesalanku bisa tertutupi..
Terima kasih untukmu waktu, aku mohon tolong baca suratku ini..(Asri_Ismail)

Asri_Ismail
Makassar, Warkop Om Ben (23/3)
#7days7letters

Comments
0 Comments

No comments:

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...