22 Tahun sudah kau menemaniku, kau begitu setia
bersamaku. Tak ada sedikitpun celah kau lewatkan. Segala aktivitas yang aku
jalani kau selalu saja mendampingiku. Aku bahagia sekali, Tuhan telah
menciptakanmu untuk kami. Meski wujudmu abstrak, namamu pun lahir dari sebuah
kesepakatan belaka. Tapi, aku tak pernah peduli itu, yang jelas aku telah
menikmatimu selama ini.
Kala aku sedih, kalau aku bahagia, namamu selalu
aku sebut untuk tempatku mengeluh dan meminta. Kau bukanlah Tuhan yang mampu
segalanya, kau hanyalah sebuah renungan dari apa yang telah aku lalui, dan kamu
mampu membuatku berpikir tentang proyeksi masa depan aku dari apa yang engkau
sediakan untuk aku gunakan sebaik-baiknya.
![]() |
| Fhoto : Int |
Aku akui,
aku terlalu kejam buatmu. Tak pernah sama sekali aku mampu memanage mu dengan baik, aku sering membuatmu terbuang sia-sia. Mungkin
saja, engkau menertawakan aku saat ini atau kau malah marah-marah sebab aku
masih saja selalu terjebak dengan kebiasaan lamaku yang hanya mengisi mu dengan
tidur dan mengkhayal, terlalu sedikit hal-hal positif yang aku mampu lakukan
untukmu.
Maaf, aku ini memang bodoh, aku hanya tahu
mengeluh, susah sekali bangkit jika mendapatkan masalah. Padahal aku tahu kau
tak pernah letih menyiapkan aku tempat untuk memperbaikinya.
Hari ini, aku kembali tersadar betapa besar
pengaruhmu terhadap jalannya roda kehidupan yang aku tempuh. Masalah besar yang
akhir-akhir ini menggerogoti pikiranku, perlahan-lahan mulai terkikis akibat
ulahmu. Ehm, rasanya otakku kembali terefresh, sedikit demi sedikit aku sudah
tak lagi mengingat masa kala itu.
Sebenarnya, tulisan ini aku mau kirim buatmu namun
aku bingung, kepada siapa aku menitipnya, padahal aku tahu kau berada pada
setiap makhluk, bahkan kau menjadi milik seutuhnya mereka. Hanya saja aku masih
ragu, apa mereka akan menyampaikan pesan aku ke kamu, tentang kegaguman aku,
tentang rasa terima kasih aku untukmu. Sebab, masih banyak diantara mereka
belum menyadari keberadaanmu.
Atau kah, aku perlu minta tolong sama Tuhan sebagai
pemilik aslimu? tapi bisaka Tuhan menjawab apa yang aku minta. Bukannya, Tuhan
telah menyerahkanmu untuk aku? tapi aku tak pernah melihatmu. Kau hanya
ditandai dengan jarum jam yang tak pernah berhenti berdetak, tak pernah lelah
berputar. Namun, tak pernah bicara apa tentang kemauan dari benda mati itu, ia
hanya selalu menjadi pengingat tapi pernah bergerak untuk memberi intruksi
kepadaku.
Ah..sekali lagi terima kasih untukmu, problem yang
kau berikan seminggu terakhir ini aku mampu atasi. Untung masih ada kamu yang
mampu berlalu kan sesuatu, hingga hanya menjadi sebagai kenangan atau sejarah. Sekarang
aku yakin, semua masalah yang aku hadapi nantinya, akan hilang seiring
berjalanmu setiap saat. Aku hanya butuh kamu, untuk melewati segala gempuran
kehidupan yang bakal kuhadapi.
Untukmu waktu, aku berjanji tak akan lagi ku
sia-siakan, tak akan lagi ada perbuatan menyepelekan. Saat ini, aku masih saja
berharap, engkau kembali mengulang masa-masaku yang terbuang begitu saja, hingga
akhirnya penyesalanku bisa tertutupi..
Terima kasih untukmu waktu, aku mohon tolong baca
suratku ini..(Asri_Ismail)
Asri_Ismail
Makassar, Warkop Om Ben (23/3)
#7days7letters
Makassar, Warkop Om Ben (23/3)
#7days7letters

.jpg)