Thursday, 21 March 2013

Bersama "Pemuda Senja" di Warung Kopi


Belum lepas rasanya rasa penat, usai mengawas Ujian Akhir Sekolah (UAS) di sekolah (2/3). Baru saja, saya dan teman-teman mencoba meregangkan tulang di posko bahkan ganti baju pun belum kami lakukan. Tiba-tiba kakek memanggil kami untuk pergi minum kopi di tempat favoritnya.

Kakek ini sebenarnya pemilik rumah tempat yang kami jadikan posko. Sepertinya, tak ada alasan buat kami untuk menolak ajakkan beliau. Walau, badan kami belum jua melepaskan kelelahannya..hehehe

Sejurus kemudian, kami pun meluncur menuju tempat yang kakek maksud. Dengan mengenderai dua motor, satu motor untuk tumpangan kakek dan satunya lagi saya bersama dengan teman.

Warung kopi itu terletak di jantung kota Soppeng, sekitar 2 km dari posko kami. Dalam perjalanan, saya mulai menebak-nebak dari rasa penasaran saya yang bekecamuk, seperti apa sih tempat minum kopi langganan kakek ini. Setiba disana, warung itu ternyata berhadapan dengan Pusper (Pusat Pertokoan, red). Sebuah ruko yang kemudian disulap jadi warung kopi. Tempatnya sih ala’ tradisonal namun tetap ada sentuhan modernnya.

Meja yang di pojok sana, yang menjadi pilihan kakek untuk menikmati kopi pesanannya. oh ya, tempat ini kayaknya memang di gemari para kaum senja untuk melepaskan segala pikiran dan bertemu dengan teman-teman mereka kala kecil. Hampir semua pelanggan yang datang seumuran dengan kakek.

Saya bersama kakek memesan kopi campur susu untuk seduhan di siang bolong itu. Di meja yang kami tempati itu sudah ada dua orang yang yang sedang asik-asiknya berbincang-bincang. Entahlah, apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Kami hanya langsung duduk di meja tersebut. Ternyata kedua orang itu adalah teman karib kakek di masa kecil dulu.

Wajah yang awalnya sumringan ternyata begitu hangat menyambut kami. Tampaknya mereka senang atas kedatangan kami, mungkin karena kakek bersama kami si mahasiswa KKN hehehe…

Kakek pun kangen-kangenan dengan kedua orang itu, sambil bercerita tentang masa lalu mereka. Bercerita tentang sejarah kehidupannya. Dan jumlah cucu mereka saat ini.
Banyak hal yang mereka ceritakan, bahkan sejumlah petuah-petuah pun mereka berdua sharing ke kami. Bangga juga bisa bersama mereka di warung ini. Pelajaran hidup yang dibagikan mungkin bisa menjadi bimbingan kami untuk menempuh kehidupan masa depan nanti.

Kedua pria veteran ini sudah mengenyam kehidupan sejak jaman Soekarno menjadi Presiden di Indonesia. Mereka berdua sih mengaku lahir pada tahun 1942, wah…waktu Indonesia belum merdeka ya. Jadi, saat ini kakek dan temannya itu sudah berumur 71 tahun.  Namun, meski keduanya terbilang sangat tua dan sangat jarang saat ini orang bisa mencapai umur seperti itu. Tapi keduanya ternyata masih begitu sehat tanpa ada penyakit pikun yang menggerogotinya hehehee..

Mereka Pun Tahu Tentang Korupsi

Penyakit Indonesia yang saat ini hangat di perbincangkan ternyata juga menjadi wacana yang kerap kali dikelola kakek dan temannya. Menurutnya teman kakek, dulu itu pegawai dan guru tidak ada apa-apanya. Mereka hanya dijadikan sebagai komoditi pasar.

Hem…kakek jago juga ya, ternyata kedua orang yang saat ini berumur “petang” termasuk orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi di zaman orde lama. Kakek sendiri mampu menyelesaikan sekolahnya hingga SMP, kalau teman kakek hingga masuk di SMA PGRI. Menurut pengakuan kakek, ia lebih memilih jadi pegawai dan temannya jadi guru.

Persoalan korupsi, teman kakek lah yang lebih jago, katanya kalau di zamannya orang bekerja tidak mesti mengeluarkan uang, cukup memiliki inisiatif maka pekerjaan itu yang menjemput kita. Hanya saja saat ini, katanya, zaman telah berubah, semua serba terbalik,  untuk mendapatkan pekerjaan, kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli pekerjaan itu. Ia mencontohkan mendaftar polisi, dokter dan sejenisnya, saat ini tidak lagi mengandalkan skill atau kemampuan person tapi persoalan kuantitas finansial yang kita miliki. Makanya, saat ini korupsi merajalela.

Kakek ini cerdas ya, gumang saya dalam hati. Ia begitu lihai memaikan kata-kata sehingga menarik kedengaran, beberapa pribahasa klasik pun ia masih mampu hutarakan ke kami.. hehehe sesekali suara tertawa pun menyelingi pembicaraan kami.. saat itu.
Kakek (pake Songko' Haji) bersama temannya

Sekitar dua jam, kami menyeduhkan kopi panas itu, kami pun pamit untuk kembali ke posko. Apalagi, kata kakek sore ini ia harus ke sawah untuk memanen padi miliknya.
Pokoknya untuk hari ini, satu pelajaran berharga lagi kami dapat. Ternyata, belajar dengan orang yang sudah berstatus Opa..justru lebih menarik, meski gigi mereka sudah hampir habis tercabut oleh zaman alias waktu hehehe..Thanks… (Asri_Ismail )

Asri_Ismail  
Posko KKN-PPL UNM angk. VI (Kamis, 21/3)

Comments
0 Comments

No comments:

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...