Belum lepas rasanya
rasa penat, usai mengawas Ujian Akhir Sekolah (UAS) di sekolah (2/3). Baru
saja, saya dan teman-teman mencoba meregangkan tulang di posko bahkan ganti
baju pun belum kami lakukan. Tiba-tiba kakek memanggil kami untuk pergi minum
kopi di tempat favoritnya.
Kakek ini sebenarnya pemilik rumah tempat yang kami
jadikan posko. Sepertinya, tak ada alasan buat kami untuk menolak ajakkan
beliau. Walau, badan kami belum jua melepaskan kelelahannya..hehehe
Sejurus kemudian, kami pun meluncur menuju tempat
yang kakek maksud. Dengan mengenderai dua motor, satu motor untuk tumpangan
kakek dan satunya lagi saya bersama dengan teman.
Warung kopi itu terletak di jantung kota Soppeng,
sekitar 2 km dari posko kami. Dalam perjalanan, saya mulai menebak-nebak dari
rasa penasaran saya yang bekecamuk, seperti apa sih tempat minum kopi langganan
kakek ini. Setiba disana, warung itu ternyata berhadapan dengan Pusper (Pusat
Pertokoan, red). Sebuah ruko yang kemudian
disulap jadi warung kopi. Tempatnya sih ala’ tradisonal namun tetap ada
sentuhan modernnya.
Meja yang di pojok sana, yang menjadi pilihan kakek
untuk menikmati kopi pesanannya. oh ya, tempat ini kayaknya memang di gemari
para kaum senja untuk melepaskan segala pikiran dan bertemu dengan teman-teman
mereka kala kecil. Hampir semua pelanggan yang datang seumuran dengan kakek.
Saya bersama kakek memesan kopi campur susu untuk
seduhan di siang bolong itu. Di meja yang kami tempati itu sudah ada dua orang
yang yang sedang asik-asiknya berbincang-bincang. Entahlah, apa yang menjadi
bahan pembicaraan mereka. Kami hanya langsung duduk di meja tersebut. Ternyata
kedua orang itu adalah teman karib kakek di masa kecil dulu.
Wajah yang awalnya sumringan ternyata begitu hangat
menyambut kami. Tampaknya mereka senang atas kedatangan kami, mungkin karena
kakek bersama kami si mahasiswa KKN hehehe…
Kakek pun kangen-kangenan dengan kedua orang itu,
sambil bercerita tentang masa lalu mereka. Bercerita tentang sejarah
kehidupannya. Dan jumlah cucu mereka saat ini.
Banyak hal yang mereka ceritakan, bahkan sejumlah
petuah-petuah pun mereka berdua sharing
ke kami. Bangga juga bisa bersama mereka di warung ini. Pelajaran hidup yang dibagikan
mungkin bisa menjadi bimbingan kami untuk menempuh kehidupan masa depan nanti.
Kedua pria veteran ini sudah mengenyam kehidupan
sejak jaman Soekarno menjadi Presiden di Indonesia. Mereka berdua sih mengaku
lahir pada tahun 1942, wah…waktu Indonesia belum merdeka ya. Jadi, saat ini
kakek dan temannya itu sudah berumur 71 tahun. Namun, meski keduanya terbilang sangat tua dan
sangat jarang saat ini orang bisa mencapai umur seperti itu. Tapi keduanya
ternyata masih begitu sehat tanpa ada penyakit pikun yang menggerogotinya
hehehee..
Mereka
Pun Tahu Tentang Korupsi
Penyakit Indonesia yang saat ini hangat di
perbincangkan ternyata juga menjadi wacana yang kerap kali dikelola kakek dan
temannya. Menurutnya teman kakek, dulu itu pegawai dan guru tidak ada
apa-apanya. Mereka hanya dijadikan sebagai komoditi pasar.
Hem…kakek jago juga ya, ternyata kedua orang yang
saat ini berumur “petang” termasuk orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi
di zaman orde lama. Kakek sendiri mampu menyelesaikan sekolahnya hingga SMP,
kalau teman kakek hingga masuk di SMA PGRI. Menurut pengakuan kakek, ia lebih
memilih jadi pegawai dan temannya jadi guru.
Persoalan korupsi, teman kakek lah yang lebih jago,
katanya kalau di zamannya orang bekerja tidak mesti mengeluarkan uang, cukup
memiliki inisiatif maka pekerjaan itu yang menjemput kita. Hanya saja saat ini,
katanya, zaman telah berubah, semua serba terbalik, untuk mendapatkan pekerjaan, kita harus
mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli pekerjaan itu. Ia mencontohkan
mendaftar polisi, dokter dan sejenisnya, saat ini tidak lagi mengandalkan skill
atau kemampuan person tapi persoalan kuantitas finansial yang kita miliki.
Makanya, saat ini korupsi merajalela.
Kakek ini cerdas ya, gumang saya dalam hati. Ia
begitu lihai memaikan kata-kata sehingga menarik kedengaran, beberapa pribahasa
klasik pun ia masih mampu hutarakan ke kami.. hehehe sesekali suara tertawa pun
menyelingi pembicaraan kami.. saat itu.
![]() |
| Kakek (pake Songko' Haji) bersama temannya |
Sekitar dua jam, kami menyeduhkan kopi panas itu,
kami pun pamit untuk kembali ke posko. Apalagi, kata kakek sore ini ia harus ke
sawah untuk memanen padi miliknya.
Pokoknya untuk hari ini, satu pelajaran berharga
lagi kami dapat. Ternyata, belajar dengan orang yang sudah berstatus
Opa..justru lebih menarik, meski gigi mereka sudah hampir habis tercabut oleh
zaman alias waktu hehehe..Thanks… (Asri_Ismail
)
Asri_Ismail
Posko
KKN-PPL UNM angk. VI (Kamis, 21/3)

