Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang
kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama
sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan
dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik
lagi bertugas sebagai Setan….”
![]() |
| Manusia bersahabat dengan setan (Fhoto : Google Search) |
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami
sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada
Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam.
Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak
turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis….”
Itu penggalan tulisan MH Emha Ainun Najib yang
ditulis dalam bentuk esai. Rasanya saya tergelitik dengan isi dari esai ini. Kalau
dipikir secara logika, rasanya terlalu naïf jika kita sebagai manusia yang
seutuhnya manusia masih saja membantah argumentasi dari Cak Nun, Sapaan
budayawan hebat satu ini.
Dunia ini memang sedang dipenuhi dengan kerumunan
setan yang berwujud manusia. Pun kalau ada diantara pembaca tulisan masih
merasa tidak terpengaruh dengan sifat-sifat setan, berarti dia berada di luar
subyek pembicaraan kita ini..hehehehe.
Maaf-maaf saja, maraknya prilaku koruptor baik itu
dalam skala besar ataupun dalam skala yang kecil, minum-minuman keras, sifat individualistik individu merupakan contoh kecil prilaku setan yang kini dijalankan oleh orang
yang menganggap dirinya manusia.
Ketika setan saja mengaku tidak lagi memiliki tantangan dalam
menjalankan tugasnya sebagaimananya setan, itu indikasi bahwa manusia sudah
terjerumus dalam lingkaran hitam yang dibuat setan. Manusia seolah-olah tak mampu lagi melakukan
penetrasi dalam membedakan prilakunya dengan prilaku sang “penggoda”nya, yang
tentu akan memberikannya efek negatif bagi dirinya kelak.
Saya pribadi saja kerap tidak menyadari, apakah
saya ini sedang terkontaminasi dengan setan atau tidak. Sebab, permainan ego
yang selalu mengedepankan kebenaran subyektif itu yang biasa memengaruhui
persahabatan kita semakin erat dengan setan.
Pertanyaannnya kemudian, apakah saat ini manusia
itu sudah berprilaku setan? ataukah setan itu sudah berwujud manusia. Realistis
saja, apakah diantara kita masih belum ada yang pernah berprilaku layak setan? Saya berani
menjawab TIDAK.
Selamat berpikir saja, sebab terkadang hanya pada
proses berpikir kita bisa menemukan diri kita, lalu kita sendiri nantinya mampu
menentukan diri, apakah kita setan ataukah kita hanya sedang melakoni
kepura-puraan menjadi manusia yang bersifat SETAN. Semoga saja tidak…
Asri_Ismail (3/2/2013)

