Saturday, 2 February 2013

Manusia Itu Setan atau Setan Itu Sudah Manusia?


Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan….”

Manusia bersahabat dengan setan (Fhoto : Google Search)
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis….”

Itu penggalan tulisan MH Emha Ainun Najib yang ditulis dalam bentuk esai. Rasanya saya tergelitik dengan isi dari esai ini. Kalau dipikir secara logika, rasanya terlalu naïf jika kita sebagai manusia yang seutuhnya manusia masih saja membantah argumentasi dari Cak Nun, Sapaan budayawan hebat satu ini.

Dunia ini memang sedang dipenuhi dengan kerumunan setan yang berwujud manusia. Pun kalau ada diantara pembaca tulisan masih merasa tidak terpengaruh dengan sifat-sifat setan, berarti dia berada di luar subyek pembicaraan kita ini..hehehehe.

Maaf-maaf saja, maraknya prilaku koruptor baik itu dalam skala besar ataupun dalam skala yang kecil, minum-minuman keras, sifat individualistik individu merupakan contoh kecil prilaku setan yang kini dijalankan oleh orang yang menganggap dirinya manusia.
Ketika setan saja  mengaku tidak lagi memiliki tantangan dalam menjalankan tugasnya sebagaimananya setan, itu indikasi bahwa manusia sudah terjerumus dalam lingkaran hitam yang dibuat setan.  Manusia seolah-olah tak mampu lagi melakukan penetrasi dalam membedakan prilakunya dengan prilaku sang “penggoda”nya, yang tentu akan memberikannya efek negatif bagi dirinya kelak.

Saya pribadi saja kerap tidak menyadari, apakah saya ini sedang terkontaminasi dengan setan atau tidak. Sebab, permainan ego yang selalu mengedepankan kebenaran subyektif itu yang biasa memengaruhui persahabatan kita semakin erat dengan setan.

Pertanyaannnya kemudian, apakah saat ini manusia itu sudah berprilaku setan? ataukah setan itu sudah berwujud manusia. Realistis saja, apakah diantara kita masih belum ada yang pernah berprilaku layak setan? Saya berani menjawab TIDAK.

Selamat berpikir saja, sebab terkadang hanya pada proses berpikir kita bisa menemukan diri kita, lalu kita sendiri nantinya mampu menentukan diri, apakah kita setan ataukah kita hanya sedang melakoni kepura-puraan menjadi manusia yang bersifat SETAN. Semoga saja tidak…

Asri_Ismail (3/2/2013)






Comments
0 Comments

No comments:

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...