Friday, 16 March 2012

Ketika Pendidikan Gratis Masih Jadi Jargon



Setiap menjelang pemilihan kepala daerah baik pemilihan gubernur, walikota maupun bupati. Tentu sudah tidak lazim lagi jika setiap saat kita menyaksikan sejumlah baliho, spanduk, poster ataupun hal yang berkaitan dengan itu, banyak terpampang disetiap ruas jalan raya. Perang photo yang kita saksikan tersebut menjadi hal lumrah dalam panggung politik. Bak artis yang sedang “naik daun”, photo para calon kandidat itu selalu saja hadir menghegemoni setiap sudut-sudut ruang sterategis masyarakat  untuk dijadikan sebagai bahan tontonan.
Tak kalah hebatnya, sebagai pemanis daya tarik, sejumlah janji-janji mereka tawarkan jika ia terpilih. Mulai kesehatan gratis, pemberantasan pengangguran hingga pendidikan gratis dijadikan sebagai alat ampuh untuk mendapatkan dukungan penuh. Beragam cara yang dilakukan para calon pemimpin agar pesan politik yang dikemasnya tersampaikan dan berterima di hati masyarakat. Semuanya tentu bertujuan agar kelak masyarakat memilih para calon kepala daerah itu dalam pesta demokrasi nantinya
Dari sekian banyak janji yang mereka tebar, hampir setiap calon para pemimpin dalam kampanyenya,  memasukkan pendidikan gratis dalam visi-misinya sebagai poin prioritas. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan masih saja menjadi lahan empuk para politisi untuk meraup suara banyak. Dan Instansi pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggilah yang dijadikan sebagai lahan kampanyenya. Maka, tak salah jika disekitar area sekolah atau kampus banyak poster-poster calon pemimpin yang bertebaran.
Kini, pendidikan gratis adalah jargon paling jitu digunakan para kandidat  untuk menarik perhatian masyarakat. Apalagi, saat ini setiap jenjang pendidikan yang akan ditempuh selalu berbanding lurus dengan biaya yang akan digunakan. Maka, bukan tidak mungkin jika hal itu yang menjadi salah alasan para pemegang suara untuk mengorbankan suaranya demi kontestan pemilu yang dimaksud.
Dinamikan demokrasi seperti inilah yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Tak terkecuali Sulawesi-Selatan. Menjelang pesta demokrasi yang akan berlangsung di sejumlah daerah hingga pemilihan gubernur. Tak bisa dipungkiri, banyak ditemukan janji-janji politik yang  bernuansa kenikmatan. Dan pastinya, pendidikan gratis selalu menjadi tawaran ” dahsyat” untuk dipromosikan.
 Terkadang Tak Sesuai Janji
Betul kata pepatah, politik itu seperti panggung drama yang penuh kepura-puraan. Sumpah janji yang diteriakkan oleh para kandidat saat berkampanye dan mengantarkannya pada posisi nomor satu, dalam hal ini penerapan pendidikan gratis. Ternyata, tidak sesuai dengan harapan rakyat. Sedikit mengingat kembali, bahwa program pendidikan gratis ini bukan sesuatu yang baru. Telah banyak kepala daerah yang menjadikan program ini sebagai tujuan utama. Namun, realitas yang ada ternyata masih dinilai belum maksimal.
Begitupun, kiranya yang terjadi di Makassar dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi-Selatan. Beberapa daerah yang sudah mencanamkan program ini, seperti Kabupaten Bone, Palopo, Sinjai, Gowa dan lainnya ternyata banyak menemui kendala.
Bukti ketidak berhasilan konsep pendidikan gratis ini, banyaknya anak-anak yang mesti putus sekolah karena tidak sanggup membayar uang sekolahnya. Belum lagi, jumlah anak jalanan yang masih berusia dini tapi sudah berjuang melawan kerasnya hidup. Ataukah, siswa yang tidak bisa belajar karena gedung sekolahnya roboh, sehingga harus menunggu pemerintah dalam rentang waktu yang lama untuk memperbaikinya.
Saya pikir pemerintah tidak buta, mungkin saja setiap hari menyaksikan sejumlah anak-anak berjualan dipinggir-pinggir jalan untuk menafkahi dirinya. Tak perduli, entah itu siang yang panas atau malam yang menggigil, hal terpenting baginya adalah mereka bisa makan. Di Sulawesi-Selatan, hal semacam ini bukan lagi tontonan yang aneh. Hampir disudut-sudut keramain selalu ada dijumpai. Hanya saja, tampaknya pemerintah masih enggan untuk memerhatikan kehidupan mereka.
Potret lain, beberapa bulan lalu sejumlah stasiun televisi menyuguhkan kisah yang sejalan dengan apa yang diceritakan sebelumnya. Kisah ini terjadi di sebuah daerah di Jawa. Disana, kita melihat sejumlah siswa mempertaruhkan nyawanya karena menggunakan jembatan penyebrangan yang hampir roboh menuju sekolahnya.
Kasus diatas hanyalah bagian terkecil dari sejumlah indikasi gagalnya pelaksanaan  pendidikan gratis yang ada di Indonesia. Namun, berlandas dengan realita tersebut, saya menilai realisasi pendidikan gratis masih sebatas angan-angan. Pelaksanaan dilapangan hanya menyentuh instansi-instansi pendidikan tertentu. Tidak ada pemerataan disegala lini. Pembayaran SPP, pembayaran uang bangunan, hingga pembelian buku masih saja menjadi tanggungjawab beberapa orang tua, Ironis!.
Kesalahan Persepsi
Permasalahan sebenarnya terjadi karena terkadang  kepala daerah menganggap pendidikan gratis tersebut hanya sampai pada pembebasan terhadap pembayaran SPP dan pengadaan buku paket. Padahal, biaya sekolah bukan hanya pada kedua elemen tersebut,  lebih dari itu, uang transportasi dan uang makan di sekolah serta biaya lainnya seharusnya ditutupi juga.Pendidikan gratis itu berarti segala hal yang berkaitan dengan sekolah, semuanya gratis. Tanpa harus merepotkan orang tua untuk terlibat dalam pembiyaan. Seperti itulah idealnya pendidikan gratis.
Hanya saja,  ketika pemerintah dituntut oleh masyarakat mengenai janji pendidikan gratis yang merata. Para pimpinan selalu saja beralasan adanya keterbatasan anggaran.
Lantas bagaimana dengan janjinya saat berkampanye, sebelum mereka terpilih? Bukankah dalam undang-undang RI Nomor 10 Tahun 2008 pada  pasal 76 dan seterusnya yang mengatur tentang kampanye dijelaskan bahwa kampanye pemilu dilakukan  dengan prinsip bertanggung jawab. Artinya, segala perkataan yang dilontarkan saat kampanye harus dibuktikan.
Semoga, pemimpin nantinya, terkhusus Sulsel benar-benar memiliki rasa tanggungjawab penuh.Problem pendidikan yang saat ini menjadi masalah besar dikalangan masyarakat dengan biaya pendidikan yang mahal dengan segala macamnya yang kontradiktif , betul-betul bisa diatasi. Dan tentunya, program pendidikan gratis ini berjalan maksimal, sesuai porsi  yang dibutuhkan. ***

Comments
0 Comments

No comments:

Entitas dari cerita itu lahir dari perenungan atas ide dan bahasa mewadahi perlakuannya. Menulislah...